Kalau kemarin gue nggak diajak untuk ikut mengunjungi Desa Kedaburapat di Provinsi Riau, gue mungkin nggak akan pernah mendengar nama Kedaburapat. Maka ketika diundang untuk mengunjungi salah satu desa tertinggal di Indonesia ini, jawaban gue langsung yes, mari kita berangkat! Gue semangat karena dalam hati gue tau kalau perjalanan kali ini akan jadi satu perjalanan yang berbeda banget dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya. Kalau biasanya gue pergi ke satu tempat karena keindahan alamnya, kali ini gue ‘harus’ pergi ke satu tempat karena ketertinggalannya. Pasti ada hal yang menarik yang bisa gue temui di trip kali ini. 
Rupa Desa Kedaburapat, Riau.
Kedaburapat berada di Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Untuk menuju ke sana, kami mengambil penerbangan ke Batam lalu melanjutkan perjalanan laut dengan speed boat menuju Tanjung Balai Karimun melalui Pelabuhan Sekupang. Udah sampai? Belum! Dari situ kami masih harus menyeberang Selat Malaka dengan menggunakan perahu kayu untuk sampai ke Pulau Rangsang. Kami disambut oleh beberapa motor yang siap mengantarkan kami ke Desa Kedaburapat. Di atas motor gue melihat dengan jelas kenapa Kedaburapat digolongkan desa tertinggal. Pertama jaraknya yang jauh dari pusat kota dengan jarak satu rumah ke rumah lain cukup berjauhan dan ‘diisi’ dengan semak belukar tinggi yang tidak terurus. Selain itu, jalanan sangat rusak. Motor kami terpaksa jalan lebih lama untuk memilah jalan yang bisa dilalui. Kategori jalan rusak di sini bukan cuma jalan bolong-bolong ya, tapi memang nggak bisa dilewati—beberapa titik hanya disambung dengan kayu atau papan selebar dua kali ukuran ban motor. Berada di Pulau Rangsang membuat gue merasa seperti masuk lorong waktu lalu keluar lagi di masa-masa dulu waktu jalan masih jelek dan kendaraan hampir tak terlihat di jalanan. Di sini bahkan nggak ada mobil, Bapak Kepala Desa pun menggunakan becak motor saat datang menemui kami. Mau nggak mau gue jadi membandingkan keadaan sama di kota, di mana kita sering ngomel gara-gara macet dan kendaraan jenis apapun berseliweran nggak kenal waktu. 
Becak motor yang menjadi transportasi umum di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.
Perjalanan dengan motor kami tempuh selama 1 jam. Lumayan jauh juga ya, ditambah jalan rusak itu tadi. Kami kemudian disambut oleh beberapa warga di kantor desa. Selain oleh senyuman ramah, kami juga disambut oleh es kelapa dingin yang rasanya 20 kali lebih enak daripada es kelapa yang biasa gue minum. Pasti karena lelah ditambah cuaca yang lumayan panasnya. Sambil meregangkan otot-otot yang lumayan tegang karena perjalanan jauh, kami berbincang-bincang dengan kepala desa, perangkat desa, para pendamping desa, juga dengan beberapa warga mengenai kondisi infrastruktur Kedaburapat, mengenai kesejahteraan & pemberdayaan warga di sana, dan tentu mengenai program inovasi desa yang dilakukan pemerintah dan warga desa untuk desanya. Dari obrolan tersebut gue bisa menangkap semangat dari desa ini untuk terlepas dari ‘gelar’ desa tertinggal. Gue juga merasa mereka sangat bangga dengan program-program yang sudah dicanangkan. Gak sabar rasanya untuk melihat langsung pelaksanaannya di hari-hari ke depan. 
Perjalanan satu jam menggunakan motor menuju Desa Kedaburapat
Hari mulai gelap saat kami menyudahi obrolan santai di kantor desa. Kami dibagi menjadi 3 grup untuk tempat bermalam. Gue, Bajindul, dan beberapa teman lain kebagian menginap di rumah kepala dusun. Istilah kerennya: homestayJ

KELILING DESA KEDABURAPAT
Kami mengawali hari kedua di Desa Kedaburapat dengan berkeliling desa, melihat langsung infrastruktur, fasilitas umum, berinteraksi dengan warga lokal, dan belajar tentang kopi khas Kepulauan Meranti. Nanti gue akan cerita lebih banyak soal kopinya. 

Saat gue bilang ‘infrastruktur’, jangan bayangkan jalan yang biasa lo liat. Di sini, jalan berlubang di hampir semua ruas jalan. Kalau nggak dibonceng sama seorang bapak yang lihai menghindari jalan berlubang, gue kayaknya nggak bisa bawa motor di sini. 
Jalan tanah dan berlubang di sekitar Desa Kedaburapat.
Seperti gue bilang tadi, salah satu keunggulan yang dikembangkan oleh desa ini adalah kopi. Lahan gambut yang terbengkalai dan tidak produktif, berhasil dimanfaatkan dan menjadi program inovasi desa Kedaburapat. Caranya? Lahan gambut yang terbengkalai itu, dipadatkan oleh warga Desa selama beberapa waktu, agar dapat ditanami kopi. Kopinya bukan jenis robusta atau arabika seperti yang biasa kita temui, tapi jenis liberika yang lebih resisten terhadap kondisi cuaca, hama, dan penyakit. Kopi liberika ini bisa tumbuh dengan baik di dataran rendah, menghasilkan tingkat kafein yang sangat rendah, yaitu 0,9-1%. Kafein dengan kadar rendah seperti ini biasanya bisa didapatkan pada kopi arabika bila ditanam di dataran dengan ketinggian 800-1200 mdpl. Keistimewaan lain dari kopi di desa Kedaburapat adalah bahwa mereka ditanam di lahan gambut yang sebelumnya terbengkalai karena intrusi air laut. Sungguh inovasi desa yang perlu dibanggakan. Mungkin desa lain di Indonesia juga bisa mencontoh desa Kedaburapat untuk memanfaatkan lahan-lahan gambut terbengkalai yang ada. Akibatnya, warga desa Kedaburapat yang rata-rata memiliki lahan gambut, mendapatkan penghasilan tambahan dan meningkat kesejahteraannya.
Biji Kopi Liberika yang lebih besar dibandingkan Arabika dan Robusta.


Kopi khas Kepulauan Meranti ini rupanya sudah dipatenkan dengan nama Kopi Liberika Rangsang Meranti. Bukan hanya hak paten, kopi ini juga sudah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG), yaitu sertifikat resmi yang diberikan kepada sumber daya alam hayati, hasil pertanian, atau hasil kerajinan tangan yang memiliki kekhasan dibandingkan produk dari daerah lain. Dengan kualitas ini, Kopi Liberika Rangsang Meranti sudah mampu menembus pasar Malaysia dengan jumlah permintaan yang cukup besar. 

Menurut salah satu petani kopi yang kami temui di sana, mereka bisa panen kopi dua kali dalam sebulan. Pada tahun 2017, mereka berhasil memanen sekitar 600 ton kopi dalam satu tahun dalam bentuk buah ceri. Jumlah panenan tidak bisa dipastikan tiap tahunnya karena masih berpengaruh dengan intrusi air yang sering terjadi di daerah ini. Ngomong-ngomong soal harga, Kopi Liberika Rangsang Meranti ini dibanderol Rp 100.000/kg dalam kondisi biji beras bersertifikat IG,  sedangkan kopi biji beras tanpa sertifikat IG dihargai Rp 40.000 – Rp 50.000/kg. Bila dijual dalam bentuk bubuk, harga kopi ini cukup tinggi yaitu Rp180.000 – Rp200.000/kg. 
Para petani kopi di desa ini kebanyakan merupakan ibu rumah tangga.
Selain belajar mengenai Kopi Liberika Rangsang Meranti, gue diajak langsung untuk memetik biji kopi liberika di kebunnya.
Sebagai salah satu produk unggulan, kopi ini juga merupakan salah satu pemasukan bagi warga desa Kedaburapat yang paling tinggi. Karenanya, Kepala Desa Kedaburapat—Bapak Mahadi dan segenap jajarannya terus berupaya untuk memaksimalkan produksi bubuk kopi plus pengangkutannya dengan berbagai cara misalnya berinovasi memperbaiki infrastruktur desa agar penjualan kopi juga bisa berjalan dengan lebih baik. Selain itu ada pula bantuan dari dinas pertanian untuk menyokong para petani dalam hal pembibitan kopinya.

Dalam kesempatan bertemu kemarin, Pak Mahadi sebagai kepala desa menyampaikan berita baik, “Baru saja dilakukan semenisasi pada jalan utama desa sepanjang 482 meter, ini sangat membantu distribusi hasil tani”. Dengan semenisasi jalan ini sangat membantu para petani untuk mendistribusikan hasil kopi para warga. Dari sebelumnya hanya bisa menggunakan sepeda dengan berat maksimal 50kg, kini bisa lebih efisien dengan beban maksimal sekali antar sebanyak 500kg. Menghemat waktu dan tenaga, bukan?
Pembangunan infrastruktur, khususnya semenisasi jalan terus dilakukan di Desa Kedaburapat untuk menunjang distribusi hasil tani warga.
Selain ke pembibitan kopi, kami juga diajak berkunjung ke sebuah TK/PAUD di mana kami disambut dengan tarian lengkap dengan kostum khas Melayu. Di kesempatan tersebut gue sempat mengobrol bersama salah satu guru di sana dan gue melihat kalau bahwa desa Kedaburapat ini sesaat lagi bisa lepas dari label ‘desa tertinggal’. 
Tarian Melayu dari TK/PAUD di Kedaburapat.
Tidak ada satupun warga di desa Kedaburapat yang masuk ke golongan gizi buruk. Jumlah keluarga pra sejahtera pun menurun dari 200 KK menjadi 150 KK, apalagi sejak adanya Dana Desa yang digelontorkan sejak tahun 2015 lalu. Gue juga melihat fasilitas kesehatan mereka mencukupi. Dari sini gue bisa menilai bahwa desa Kedaburapat sedang berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan warganya. Semua program dan fasilitas yang ada, dimungkinkan dengan adanya bantuan langsung dari Pemerintah Pusat, yaitu Dana Desa yang pemanfaatannya selalu didampingi oleh Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal  dan Transmigrasi (Kemendesa). Melalui Kementerian Desa PDTT, pemerintah ingin membangun Indonesia Mulai Dari Desa. Seluruh desa diberi kewenangan penuh untuk mengelola dana yang diberikan pemerintah. Dana ini bisa digunakan untuk infrastruktur, pemberdayaan, ekonomi, atau pariwisata, sesuai dengan keperluan dan potensi desa masing-masing. 

Dana Desa yang digunakan di Desa Kedaburapat juga beragam penggunaannya. Selain untuk infrastruktur, fasilitas pendidikan dan kesehatan, dana desa juga digunakan untuk pemberdayaan warga. Dimulai dengan dibuatnya kader posyandu, kegiatan lanjut usia, kegiatan pemuda seperti mengundang pelatih untuk klub sepak bola desa dan juga memfasilitasi grup kesenian Kompang. Dari dana desa ini pula nanti akan dibangun Rawat Inap Puskesmas yang akan menjadi pusat kesehatan juga bagi beberapa desa sekitar Kedaburapat.

Setelah melihat langsung kondisi yang ada di Desa Kedaburapat, lalu mempelajari lebih dalam mengenai Dana Desa yang ternyata berperan sangat penting bagi pembangunan dan perkembangan ekonomi desa, gue sangat yakin program Dana Desa dari Pemerintah Pusat ini sangat efektif untuk pembangunan Indonesia yang dimulai dari setiap desa yang ada. Yang terpenting adalah bagaimana caranya supaya bisa terpantau dengan baik agar setiap Dana Desa yang diterima bisa dioptimalkan oleh masing-masing desa agar desanya bisa mandiri, makmur, dan sejahtera.

Setelah seharian berkeliling Desa Kedaburapat dan mempelajari banyak hal baru, gue dan rombongan diajak untuk mengunjungi salah satu spot andalan mereka, yaitu Batu Geronjong. Berlokasi di tepi pantai yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka, Batu Geronjong merupakan batu pemecah ombak / penangkal abrasi dengan jembatan yang ditanami pohon mangrove di sepanjang sisinya. Memang tempat yang pas untuk bersantai setelah beraktivitas seharian sambil menyaksikan matahari tenggelam. Saat gue ke sana, banyak juga warga yang menghabiskan waktu sorenya di Batu Geronjong. 
Batu Geronjong yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka.
Menikmati momen matahari tenggelam di Batu Geronjong.
Wah benar-benar perjalanan yang lain dari perjalanan gue yang biasa. Banyak wawasan baru yang gue dapat dari perjalanan ini. Semangat untuk berinovasi dari para warga dan perangkat desa Kedabu Rapat ini menularkan semangat untuk gue ikut andil dalam pembangunan / inovasi dari desa tempat tinggal gue sendiri. What an amazing experience, Kedaburapat! Keramahan para warganya pun membekas di hati. Harapan gue semoga kita dapat menemukan semangat desa Kedaburapat di desa-desa lainnya yang ada di Indonesia. Sehingga Indonesia semakin maju dengan kesejahteraan yang merata sampai pelosok. Ayo kita bangun Indonesia dari pinggiran, ayo #MulaiDariDesa karena harapan baru ada di Desa! 

Btw, di tempat kalian tinggal, ada gak sih inovasi yang dilakukan desa kalian? Share yuk!
Semangat #MulaiDariDesa! #YukMulaiDariDesa