Gue sebetulnya agak heran waktu menerima ajakan untuk berkunjung ke Kompleks Pabrik Indocement di Cirebon. Kalau boleh jujur, baru tau juga mereka punya pabrik di sana. Makanya untuk menuntaskan penasaran, hari itu jam 6 pagi gue sudah berkumpul dengan beberapa teman blogger lain di Stasiun Gambir, meeting point kami untuk pergi bersama-sama naik kereta Argo Muria ke Cirebon. Ini juga kali pertama gue naik kereta ke Cirebon. Jadi baik kunjungannya maupun naik keretanya, dua-duanya membuat gue excited!

Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam lebih, akhirnya kami sampai di Stasiun Cirebon. Dari situ kami masih naik bis lagi sekitar 45 menit untuk akhirnya tiba di Palimanan.
 
Sampai di Cirebon!

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Objek Wisata Banyu Panas. Tempat ini dimiliki oleh pemerintah Cirebon namun pengelolaannya diserahkan kepada Koperasi Manunggal Perkasa yang dibawahi oleh Indocement. Pembangunan sarana dan prasarananya juga dilakukan atas bantuan Indocement. Objek wisata ini adalah salah satu destinasi pariwisata bagi warga lokal. Peminatnya cukup banyak. Bayangkan, pada tahun 2016 saja Banyu Panas sudah menarik 9.500an wisatawan. Dan gue yakin 2017 ini lebih banyak lagi pengunjung yang datang kesana. Harga tiket masuknya nggak mahal, hanya Rp. 10.000 per orang. Dengan membayar tiket ini, pengunjung bisa menikmati area depan Banyu Panas di mana tersedia saung, beberapa hiburan anak seperti ayunan dan lain-lain. Ada juga sungai buatan yang dialiri air panas. Untuk masuk ke dalam kolam pemandiannya, pengunjung dikenakan Rp. 10.000 lagi. Sepenglihatan gue hari itu, banyak pengunjung yang datang untuk berobat. Kabarnya sih banyak penyakit kulit dan penyakit lain yang bisa sembuh dengan berendam di air panas.

Lewat Koperasi Manunggal Perkasa, Indocement membantu menyumbang pendapatan daerah sebesar 89 juta bersih per tahunnya. Not bad huh.


Kolam air panasnya~
Nah yang ini kolam sumber air panasnya. Jangan pernah coba mau nyemplung disini ya! Suhunya sampai 60degC o.O
Nyemplung gak nyemplung yang penting ngeksis. xD
Tempat kedua yang kami kunjungi adalah P4M: Pusat Penelitian, Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat. Di tempat ini ada peternakan sapi, kambing dan hewan ternak lainnya, juga ada kolam ikan, green house, laboratorium, perpustakaan, sampai tempat mengembakbiakkan jamur. Sesuai namanya, P4M adalah wadah yang dibentuk Indocement untuk mencari metode-metode baru yang bisa dipraktikkan oleh warga sekitar khususnya di bidang pertanian dan peternakan. Contohnya di green house terdapat tanaman yang dibudidayakan dengan system hidroponik. Setelah system ini bisa digunakan, masyarakat kemudian diberi pelatihan agar dapat mempraktekannya di kebun mereka sendiri. Indocement juga membantu menyalurkan beberapa hasil pertanian untuk dijual. Hari ini gue sempat mencoba Teh Rosella, Keripik Nangka dan Pisang dan beberapa penganan lain yang merupakan hasil masyarakat sekitar Kompleks Pabrik Palimanan.

Penanaman di green house-nya kebanyakan menggunakan teknik hidroponik


Tempat terakhir yang gue datangi bersama teman-teman blogger di Cirebon adalah Kampung Batik Ciwaringin. Nanti gue cerita alasannya. Sekarang cerita dulu kenapa batik Ciwaringin itu berbeda dari jenis batik lain. Rupanya, Batik Ciwaringin dibuat menggunakan pewarna alami. Artinya, warna-warna yang dihasilkan dibuat dari macam-macam daun, pohon, dan produk alam lainnya. Metode yang digunakan untuk membuat Batik Ciwaringin adalah full batik tulis. Di sana gue sempat melihat proses pembuatan batik ini dari digambar (eh apa ditulis ya?), sampai dikeringkan dan menjadi helaian batik yang bagus banget! Gue beneran naksir corak batiknya karena motifnya nggak biasa dan nggak pasaran. Sayang kemarin nggak sempat beli, tapi rupanya produk Batik Ciwaringin sudah bisa dibeli online, cek aja di instagram, cari hashtag #BatikCiwaringin atau #BatikCiwaringinCirebon. Nanti gue pasti beli!



Peran Indocement untuk memajukan Batik Ciwaringin ternyata cukup banyak. Sejak tahun 2005, mereka sudah membantu pengrajin batik di sana dari sisi permodalan. Setelah itu banyak pelatihan yang mereka adakan untuk meningkatkan kemampuan pengrajin batik dalam menciptakan motif-motif khas Batik Ciwaringin. Indocement juga membantu pengurusan hak paten untuk melindungi Batik Ciwaringin. Semua usaha ini dilakukan dengan satu tujuan : agar Batik Ciwaringin dikenal lebih banyak orang.
Batik Ciwaringin dengan pewarnaan alami

Batik Ciwaringin dengan pewarnaan sintetis terlihat lebih terang dan berwarna-warni.
Kampung Batik Tulis Ciwaringin ini juga diharapkan bisa menjadi salah satu destinasi pariwisata di Cirebon. Dan gue melihat potensi itu ada. Kampung sederhana ini bisa menarik perhatian turis yang selain ingin belanja batik, juga ingin melihat proses pembuatan batik itu sendiri. Gue membayangkan nantinya ada semacam warung kopi di bawah pohon di tengah kampung itu supaya para pengunjung bisa santai sejenak menikmati suasana kampung sambil menikmati makanan-makanan tradisional.

Dari kunjungan ke tiga tempat kemarin gue kemudian melihat bahwa program CSR Indocement ini  memang dibuat tepat sasaran sesuai dengan keperluan masyarakat sekitar. Gue melihat usaha serius dari Indocement untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar lewat program-program yang mereka laksanakan. Semoga lain kali gue diajak lagi untuk melihat program CSR di komplek pabrik Indocement yang lain.



Salam,


-mrizag-