“…Okay, yang terakhir, buatlah pendakian Kinabalu ini menjadi pendakian yang fun. Karena selama lo fun, it’s gonna be fun!”

Pesan dari Ka Abex menutup briefing kami malam itu. Penjelasan peraturan pendakian, cek perlengkapan, tata cara packing, dan tips-tips lainnya mengenai pendakian di Kinabalu sudah dijelaskan dengan lengkap oleh Kak Abex sebagai team leader pendakian kali ini. Selepas itu, kami semua beranjak ke kamar masing-masing untuk segera beristirahat karena persiapan pendakian besok akan dimulai lebih pagi.


***


Preparation… before climbing!

Pagi ini saya beserta seluruh team sudah berada di Kinabalu Park Headquarters yang menjadi gerbang utama untuk mendaki Gunung Kinabalu. Semua persiapan sebelum pendakian dilakukan di tempat ini; seperti registrasi ulang, repacking, juga menimbang berat bawaan pribadi dan barang yang akan dibawa porter. Di tiap sudut dari tempat ini ramai dipenuhi oleh para pendaki dengan kelompoknya masing-masing yang terlihat sibuk memastikan semua persiapan mendaki sudah mantap. Gue dengan perasaan haru, bangga, dan bahagia berdiri di antara kerumunan para pendaki ini, bersyukur akhirnya kesempatan untuk mendaki salah satu gunung impian gue akan terlaksana juga. Terlebih lagi karna cuaca pagi ini sangat cerah, berbeda  dengan cuaca hari sebelumnya yang mendung. Pagi ini, Gunung Kinabalu yang gagah nampak jelas terlihat, seakan memanggil para pendaki untuk segera menapakinya.

Beberapa teman pernah bertanya, kenapa sih Gunung Kinabalu menjadi gunung impian gue? Sedangkan banyak gunung Indonesia yang jauh lebih indah. Jawabannya selain gunung ini memiliki ketinggian di atas 4.000 mdpl yakni 4.095,2 mdpl, pengelolaan dari Gunung Kinabalu terkenal sebagai salah satu yang terbaik. Dua hal itu mendasari keinginan besar gue untuk bisa mendaki Gunung Kinabalu. Dan perlu ditekankan, mendaki gunung / traveling ke luar negeri itu bukan berarti gak cinta tanah air. Misi gue kali ini justru ingin membuktikan langsung kabar tentang bagusnya pengelolaan di Gunung Kinabalu. Dari situ, semoga bisa mencontoh hal-hal baiknya dan bisa diterapkan di gunung-gunung Indonesia. (Lha… Siapa gue? Tapi ga ada salahnya kan kalo belajar? Ha ha)


Setelah selesai melakukan registrasi­, Bobby—guide kami selama di Sabah—membagikan name-tag dan bungkusan coklat kepada kami semua. Di name-tag tertera nama dan sebuah kode yang ternyata menjadi data dari tiap—tiap pendaki, sedangkan bungkusan coklat itu merupakan sebuah lunch box yang berisi sandwich, ayam goreng, dan apel. Well, dari sini saja sebetulnya sudah dapat dilihat perbedaan pengelolaan Gunung Kinabalu dengan gunung-gunung di Indonesia. Dan perlu diketahui, untuk mendaki Gunung Kinabalu memerlukan izin dari Kinabalu Park Headquarters dan itu sangat susah karna pengelola menetapkan quota pendaki perharinya hanya 100 pendaki. Sedangkan peminat gunung ini sangat banyak, bukan hanya warga Malaysia atau negara-negara tetangga saja, bahkan turis asing dari Eropa atau Amerika pun berbondong-bondong ingin mendaki gunung ini. Jadi untuk amannya, pemesanan atau permohonan izin baiknya dilakukan 6 – 12 bulan sebelum tanggal pendakian yang diinginkan. Kebayang kan harus sabar seperti apa? Segitu concern-nya pengelola memperhatikan hal-hal tersebut agar ekosistem dan habitat dari area gunung ini agar tetap terjaga. Indonesia? …..
FULL TEAM! SABAHSKWAD: Demang - Om Pinneng - Mario - Ka Al - Ka Abex - Satya - Anggey - Gue - Rivan - Koh Billy
Let’s start!

Dari Kinabalu Park HQ, kami semua diantar menggunakan van menuju titik awal pendakian, yakni Timpohon Gate yang berada di ketinggian 1.866 mdpl. Disini kami kembali diberi arahan mengenai info detail dan rute pendakian oleh Roni yang menjadi Mountain Guide. Pendakian kali ini diberlakukan buddy system yang mana setiap orang memiliki pasangan yang bertugas saling menjaga dan memperhatikan temannya selama pendakian hingga kembali turun. Terbentuklah lima pasang dari sepuluh anggota team kami yang dari awal sudah bersama-sama dari Indonesia — Kota Kinabalu; Ka Abex – Koh Billy, Ka Al – Om Pinneng, Mario – Demang, Anggey – Rivan, dan gue bareng Satya. Selain kami bersepuluh, pendakian ini juga ditemani our beloved guide and kind hearted friend—Bobby, 2 mountain guide, dan 3 porter.
Start point pendakian Gunung Kinabalu: Timpohon Gate.


Sebelum perjalanan dimulai seperti biasanya diawali dengan berdoa bersama, agar setiap langkah yang ditempuh selalu dalam lindungan Allah SWT.
“Berdoa selesai…”

Kami semua mulai berjalan menuruni tangga, setelah sebelumnya mengisi check-list di Timpohon Gate yang berisi nama dan kode pribadi yang tertulis di name-tag. Medan awal pendakian berupa sebuah turunan tangga, di mana terdapat sebuah air terjun kecil yang cukup menyegarkan bernama Carson Waterfall di ujung turunan. Trek yang menurun serta kesegaran dari air terjun ibarat menjadi treatment khusus yang diberikan oleh Kinabalu kepada para pendaki sebelum menghadapi trek pendakian sesungguhnya (yang cukup menyiksa). >.<


Cukup santainya, tanjakan di depan menanti!” seakan ada seseorang membisikan hal itu pada gue. Dan Jeng.. jeng.. jeng.. Trek pendakian yang awalnya memanjakan dengkul berubah menjadi sebuah tanjakan yang cukup curam. Kondisi awal trek pendakian hampir sama seperti kondisi kebanyakan di gunung-gunung Indonesia, yaitu hutan hujan tropis yang selalu basah dan lembab, dan didominasi oleh pepohonan besar. Namun bedanya, disini terdapat trek khusus yang pengelola buat sedemikian rupa, tujuannya untuk mempermudah pendakian dan juga meminimalisir kemungkinan pendaki yang hilang.
Vegetasi khas hutan hujan tropis
Target pendakian hari pertama adalah Laban Rata di ketinggian 3.273 mdpl dengan jarak tempuh 6KM. Sepanjang perjalanan akan melewati 5 shelter utama dan 2 shelter bayangan di akhir sebelum sampai di Laban Rata. Jarak antar shelter rata-rata sekitar 1KM dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam, tergantung dengan pace masing-masing pendaki. Perjanjian dalam team kami, secepat apapun salah seorang atau beberapa orang, tetap harus berhenti di shelter sebelum semuanya berkumpul. Jadi sudah pasti di tiap shelter kami beristirahat untuk sekedar menghela nafas, ngemil snack, upload foto di Instagram, atau main PokemonGo (yang terakhir khusus om Pinneng ha ha).
Mount Kinabalu Summit Trail via Ranau
Gue terkejut sekaligus amaze saat pertama kali tiba di shelter pertama—Kandis shelter. Cerita yang selama ini hanya gue baca dari artikel dan gue denger dari temen-temen pendaki, akhirnya gue saksikan sendiri secara langsung, bahwa di tiap shelter Gunung Kinabalu terdapat toilet. Wow! ini super wow! dan tau apa? saat gue cek, toiletnya super bersih tanpa bau! See, lagi-lagi Indonesia harus belajar banyak dari pengelolaan Gunung Kinabalu. Oh iya, di gunung ini juga dilarang membawa air minum kemasan. Tiap pendaki harus membawa tumbler/botol minuman sendiri karna terdapat water tank di setiap shelter yang bisa digunakan untuk mengisi ulang persediaan air minum para pendaki. Selain toilet dan water tank, juga terdapat tempat sampah yang dipisahkan antara sampah basah dan kering, serta papan info yang lengkap untuk menambah pengetahuan para pendaki mengenai Gunung Kinabalu.

Toilet bersih, papan informasi, tempat sampah, water tank, P3K, serta tandu darurat tersedia
di setiap shelter trek pendakian Gunung Kinabalu | pic courtesy: @satyawinnie
Tak terasa tiga shelter sudah kami lewati. Di pertengahan jalan menuju shelter 4—Mempening shelter, rintik air yang sebelumnya kami duga hanya uap air dari kondensasi tiba-tiba menderas. Segera kami berhenti, melepas carrier dari gendongan, dan mencari jas hujan. Jika hujan turun saat perjalanan, penting sekali memakai jas hujan atau ponco untuk menjaga badan agar tidak basah dan dingin. Disini diperlukannya persiapan yang mantap sebelumnya, karna segala kemungkinan bisa saja terjadi. Setelah jas hujan terpasang, kami melanjutkan lagi perjalanan, satu per satu pijakan tangga dilewati, namun lama-lama tangga kayu ini menyebalkan juga. Ditambah lagi vegetasi yang monoton berupa pohon besar berkanopi rimbun mulai memberi efek bosan.
pic courtesy: @sinema_traveler

 “Trek tangga ini ngeselin juga ya!” Suara salah satu teman memecah  keheningan disaat semuanya sedang sibuk menghela nafas sesampainya di shelter 4. Ternyata bukan hanya gue, tapi semua orang merasakan hal yang sama. Gue pribadi paling anti dengan jalur pendakian berupa tangga, terlebih lagi jalur makadam. Pokoknya selalu kewalahan deh!
Trek tangga tak berujung~
Kondisi udara yang dingin, ditambah badan yang mulai melemas karna energi sudah terkuras sepanjang jalan, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang lebih awal. Tips tambahan untuk para pendaki Indonesia, bawalah bekal ekstra! Contohlah kami yang membawa nasi goreng yang sudah dipersiapkan sebelum pendakian. Karna bagi orang Indonesia, apalah arti sandwich, telur rebus, ayam goreng, dan apel itu tanpa nasi. Ha ha x)))

Masih melewati trek dengan kondisi yang sama, akhirnya sekitar pukul 2 kami semua tiba di no return point, Layang-layang Hut. Dimana tempat ini merupakan tempat yang kemana-mana jauh, balik kanan jauh, ya naik juga masih lumayan jauh. Jadi, jikalau dirasa-rasa gak kuat, mendingan urungkan niat dari awal. Sampai disini artinya kami sudah berjalan sekitar 4KM dari titik awal pendakian, sisa 2KM lagi untuk sampai di check-point hari pertama, Laban Rata. Namun tantangannya bertambah karna treknya akan lebih curam dari sebelumnya.

Perjalanan dilanjutkan, perubahan vegetasi mulai terlihat setelah melangkah beberapa meter melewati shelter ke-5. Hal ini disebabkan karena area shelter ini merupakan batas dari zona hutan ultrabasik yang merupakan jenis tanah yang mengandung magnesium dan zat besi tinggi. Tangga demi tangga dilewati, rasanya mulai muak dengan medan trek seperti ini. Tapi untungnya vegetasi mulai terbuka, jadi setidaknya masih ada pemandangan yang bisa dinikmati.
Vegetasi mulai berubah dikarenakan memasuki zona hutan ultrabasik yang mengandung magnesium dan zat besi tinggi.
Kurang dari satu jam akhirnya sampai di shelter keenam, Pondok Villosa di ketinggian 2960 mdpl. Nama shelter ini diambil dari salah satu nama spesies tumbuhan yang endemik di kawasan ini yaitu Nephentes Villosa. Kawasan ini adalah akhir dari zona kawasan hutan ultrabasic. Zona yang akan dilewati berikutnya yaitu antara tanah ultrabasic dan bebatuan granit khas Gunung Kinabalu. Dari shelter ini masih harus melewati satu pos bayangan bernama Pondok Paka yang berjarak sekitar 417 meter dari Pondok Villosa.

Dari Pondok Paka, hanya cukup melewati 500 meter saja untuk sampai di Laban Rata Resthouse. Namun perjalanan jadi agak lama dikarenakan kami asyik berfoto. Secara pemandangan sepanjang perjalanan sudah terbuka, puncak-puncak Gunung Kinabalupun sudah terlihat jelas. Tepat jam 5 kami pun sampai di ketinggian 3.273 mdpl yang menjadi titik terakhir pendakian di hari pertama. Laban Rata Resthouse ini merupakan sebuah bangunan yang dijadikan sebagai tempat istirahat bagi para pendaki. Semua pendaki akan bermalam disini sebelum keesokan harinya melakukan pendakian ke puncak Gunung Kinabalu.
Akhirnya ada pemandangan~ 
Mario yang lagi asyik foto. Ya inilah yang bikin pendakian agak lama ha ha
Kami semua pun masuk ke Laban Rata Resthouse. Dari pintu masuk, langsung ke area tempat makan. Jadinya kami disambut oleh puluhan pendaki lain dengan sorakan selamat dan tepuk tangan. Kebetulan kami datang paling terakhir, dan pas banget di jam makan malam. Kami pun mencari meja yang kosong, lalu menyimpan barang bawaan kami dan bergegas untuk mengambil makanan. Berbagai menu makanan dihidangkan secara buffet seperti di hotel-hotel. Sebuah pemandangan yang asing buat para pendaki Indonesia. Kapan lagi mendaki gunung dengan fasilitas hotel seperti ini? Dan yang gak kalah menarik, sampai di ketinggian ini jaringan telepon masih 4G kenceng tanpa PHP! Bener-bener pendakian yang wow :)))


Our home at 3.273 masl, Laban Rata Resthouse by SSL (Sutera Sanctuary  Lodges)

Gimana gak girang abis trekking seharian langsung disuguhkan makanan lengkap gini :)) | pic courtesy : @billydjokosetio

Lapar Bu-Pak? Ka Al - Om Pinneng - Mario tercyduq.
Setelah selesai makan dan briefing untuk persiapan summit attack esok pagi, kami semua pergi ke kamar yang telah disediakan. Kami disiapkan sebuah kamar dengan tipe dorm—bunkbed untuk satu grup. Hal ini menjadi sensasi baru lainnya dari pendakian Gunung Kinabalu, bisa tidur dengan nyaman di kasur yang cukup empuk dengan selimut lengkap dan berada di ketinggian 3.000++. Dirasa-rasa inilah yang disebut pendakian yang ideal. Setelah menguras peluh mendaki gunung, tapi pendaki bisa istirahat nyaman dan dipuaskan dengan fasilitas yang ada. Kapan ya gunung di Indonesia kaya gini?


Ini alasan kenapa gak perlu capek-capek bawa tenda, sleeping bag, sleeping pad, etc. :p

Perjalanan ini disponsori oleh Sabah Tourism Board dan di-arrange oleh Basecamp Adventure. So, buat kalian yang mau kesini dan gak mau pusing mengurus perizinannya, langsung kontak instagram @basecamp.adventure atau email info@basecampeadventureindonesia.com :)

==
How to get there:
- Dari Jakarta ambil pengerbangan ke Kota Kinabalu (BKI). Dulu masih ada penerbangan yang direct tapi sayangnya sekarang harus transit dulu di Kuala Lumpur :(
- Dari bandara, ambil shuttle bus ke stesen bas (terminal bus) Padang Merdeka (RM5)
- Dari stesen bas Padang Merdeka, cari van tujuan Kinabalu Park (RM 20-25)

Trip Tricks:
- Booking slot pendakian dari 6-12 bulan sebelum pendakian, terlebih di hi-season.
- Jika ada budget lebih, lebih baik ambil paket trip langsung dari trip organizer di Indonesia. Karena lebih efisien dari segi waktu dan hal lainnya. Bisa kontak langsung ke @basecamp.adventure
- Walaupun pendakian terbilang mudah (trek jelas, sumber air di setiap shelter, dll), tapi disarankan untuk menggunakan jasa porter. Jadi kalian bisa puas menikmati pendakiannya + bisa foto sepuasnya :))
- Peraturan di Kinabalu National Park sangat strict, terlebih soal waktu: ada peraturan khusus untuk  waktu summit attack, batas summit attack, dan batas terakhir pendakian.
- Gak perlu membawa perlengkapan mendaki yang lengkap seperti tenda, alat masak, dll. Kalian cukup membawa pakaian trekking dan pakaian summit attack yang proper, karena udara di atas cukup dingin ditambah anginnya yang kencang + kamera :D
- Pakai terus name tag kalian kemanapun kalian pergi. Karena sekalinya hilang, kalian tidak boleh melanjutkan pendakian.

Xplore Xpense:
(berdasarkan publish rate 2016 - 2017 Sutera Sanctuary Lodges)

PACKAGE 3D2N (Kinabalu Park & Laban Rata Resthouse)

- Malaysian rates (RM)
RM 709 nett / person (dormitory)
RM 878 nett / person (lodges)

- International rates (RM)
RM 979 nett / person (dormitory)
RM 1.190 nett / person (lodges)


Sedangkan untuk biaya pendakiannya :


Salam,


-mrizag-