Ready for the summit attack!
Suara alarm di ponsel dan langkah kaki di sekitar kamar dorm membangunkan gue yang sedang terlelap nyenyak dalam buaian kasur empuk dan selimut hangat ala Laban Rata Resthouse. Rasanya berat sekali untuk beranjak dari tempat tidur dan segera berkemas untuk summit attack ke puncak Gunung Kinabalu. Proses ini selalu jadi hal yang paling menyebalkan dalam rangkaian pendakian. Tubuh yang sedang enak-enaknya beristirahat setelah pendakian panjang hari sebelumnya, harus dipaksa bangun dan segera menyesuaikan dengan suhu udara yang tak jarang sangat dingin menusuk tulang. Namun keinginan untuk menyaksikan matahari terbit di ketinggian selalu mengalahkan itu semua kok. Akhirnya, gue pun bergegas untuk pergi ke toilet untuk mencuci muka, berharap rasa kantuk yang bergelantung di kedua pelupuk mata ini akan hilang seketika.

Setelah siap dengan perlengkapan tempur summit attack, gue dan tim turun ke restoran untuk mengisi perut kami agar memiliki energi untuk melakukan pendakian ke puncak. Puluhan pendaki tampak sudah memenuhi tiap meja yang ada di restoran, bahkan beberapa sudah selesai mengisi perutnya dan bersiap untuk memulai pendakian. Sembari memasukan suap demi suap makanan, Bobby dan mountain leader tim kami memberi briefing mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan selama summit attack. Kami sepakat akan terus jalan bersamaan dalam satu tim utuh untuk memastikan semua tim dalam keadaan baik dan tidak ada yang tertinggal jauh di belakang. Kamipun berdoa, dan mulai melangkah keluar Laban Rata Resthouse. 

Jam menunjukan pukul 03.00 tepat, perjalananpun dimulai. Medan pertama yang dilewati merupakan tangga kayu yang sengaja dibuat oleh pengelola Taman Nasional Gunung Kinabalu. Kami perlahan meniti satu per satu anak tangga dengan cukup lambat karena saking padatnya pendaki yang summit attack bersamaan. Jadi gak ada pilihan lain selain bersabar karena lebar medan yang dilalui pun cukup sempit, sehingga tidak bisa seenaknya untuk menerobos ke depan. Sebenarnya kalo di gunung Indonesia bisa saja untuk memulai pendakian lebih awal, sehingga kesempatan bertemu pendaki lain bisa lebih sedikit dan bisa mencapai puncak lebih cepat. Tapi di Gunung Kinabalu memilik peraturan yang cukup ketat, terlebih mengenai waktu. Jadi memulai pendakian lebih awalpun akan percuma karena gerbang di Pos Sayat-sayat akan di buka pada jam 02.30 tepat. Oleh karena itu kami tidak terlalu buru-buru untuk memulai pendakian lebih awal, yang terpenting bisa sampai di Pos Sayat-sayat sebelum jam 5 pagi. Karena apa? Bagi pendaki yang tiba di Pos Sayat-sayat lebih dari jam 5, mendapatkan resiko tidak bisa melanjutkan pendakian ke puncak. So, hal ini harus jadi perhatian bagi kalian yang ingin mendaki Gunung Kinabalu. Sedih kan udah jauh-jauh pergi ke Sabah, terus gak bisa lanjut summit attack karena melewati waktu Cut off Time yang berlaku disini.

Tangga demi tangga masih gue lewati dengan sabar. Gue kira trek tangga macam ini sudah berakhir di pendakian hari pertama. Jujur, kami semua sudah muak dengan trek tangga tiada akhir itu. Dan kagetnya lagi, kami harus menerima takdir karena perjalanan ke puncak pun masih dipenuhi trek tangga. Huh! Rasanya sulit sekali untuk menghela nafas. Makin lama berjalan, makin sulit sekali untuk bernafas. Hal ini dikarenakan semakin tinggi yang menyebabkan kadar oksigen yang menipis, dan juga faktor kondisi tubuh yang harus beradaptasi dengan udara yang dingin. Untungnya tak lama Ka Abex — Sang team leader mengintruksikan kami semua untuk bersitirahat sejenak. Gue bergegas untuk mencari posisi ter-uenak dan mengambil air minum untuk membasahi kerongkongan yang mulai kering.

Pagi itu ribuan bintang menghiasi langit Sabah, rasa khawatir akan cuaca burukpun hilang seketika. Dari hari sebelumnya kami semua sudah mengkhawatirkan cuaca selama pendakian karena hampir setengah perjalanan di hari pertama ditemani rintik-rintik tetesan air hujan. Alhamdulillah, pagi ini cuaca sangat mendukung. Masing-masing dari kami menikmati waktu istirahat ini. Nikmatnya bisa menjulurkan kaki dan menengadahkan kepala dengan pemandangan taburan bintang memenuhi langit pagi itu. Inilah art of climbing mountain versi gue, bisa menikmati dan bersyukur dari setiap proses pendakian.
Istirahat dulu kakak!~
Tak jauh dari tempat kami beristirahat, terlihat sebuah pondok yang diterangi sedikit cahaya redup yang tak lain adalah Pos Sayat-sayat yang menjadi check point pertama. Kami segera berdiri dan melanjutkan perjalanan karena tidak ingin melewati waktu COT di Pos Sayat-sayat. Seorang bapak terlihat mulai mengecek tiap name tag pendaki dari dalam bilik, memastikan data yang benar dari setiap pendaki. Kami pun memutuskan untuk kembali bersitirahat disini, mengisi perut kami dengan camilan yang sudah kami siapkan sebelumnya dan juga mengisi ulang persediaan air supaya tidak kehausan selama mendaki ke puncak.

Selangkah meninggalkan Pos Sayat-sayat, medan pendakian mulai terlihat berubah, dari tangga-tangga yang membosankan berganti dengan bebatuan granit yang cukup terjal. Pendakian semakin menantang, terlebih lagi bagi buddy gue — Satya yang sedang mengalami masalah dengan tangannya yang baru patah beberapa bulan lalu sebelum pendakian. Namun untungnya pengelola memasang seutas tali sepanjang jalur terjal ini agar pendaki bisa menyeimbangkan langkahnya dengan cara memegang tali yang tersedia.

Perlahan langitpun mulai semakin terang, diiringi suara adzan dari hanphone gue yang memecah keheningan dari setiap hela nafas tiap-tiap pendaki yang berjuang untuk terus melangkah naik. Gue memutuskan untuk berhenti sejenak, melepaskan tas dari gendongan, dan menghamparkan jaket ke batuan granit sebagai pengganti sejadah. Lalu gue tepukkan kedua tangan ke permukaan granit, mengusapkan ke bagian wajah hingga telapak dan pergelangan tangan. Beribadah di atas ketinggian dan berada disekeliling ciptaanNya selalu membuat gue merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Juga mengingatkan gue bahwa manusia itu sangat kecil, tak ada apa-apanya dibandingkan ciptaanNya yang lain. Damai rasanya....

Lanskap pagi yang Allah suguhkan kala itu.



Sayup-sayup terdengar suara dari arah atas yang memanggil nama gue. Tak lain adalah teman satu tim gue yang sudah berkumpul di atas sana, cukup jauh dari posisi gue berdiri sekarang. Mereka sudah sampai di titik 7.5km, sengaja untuk beristirahat dan mengabadikan momen matahari terbit dari titik itu. Kami sengaja tidak mengejar waktu sunrise di puncak Low's Peak, Gunung Kinabalu. Karena menurut Ka Abex, pemandangannya  lebih cantik dinikmati dari titik 7.5km ini dibandingkan di puncak. Selain itu, puncak dari Gunung Kinabalu sangat sempit. Jadinya akan rebutan dengan pendaki lain untuk berfoto disana. Memang pilihan tepat untuk berhenti di titik ini, puncak South Peak yang menjadi icon gunung ini pun terlihat jelas, nampak lebih cantik dengan latar lautan awan yang bergumpal.



South Peak 3.933 mdpl
Disaat pendaki lain mulai berhamburan untuk kembali turun ke Laban Rata Resthouse, kami malah baru mulai untuk melanjutkan pendakian ke puncak. Dari titik 7.5km, puncak dari Low's Peak sudah terlihat jelas, jaraknya pun hanya 1km saja. Namun realitanya sangat jauh di dengkul! Treknya cenderung landai, tidak terlalu menanjak seperti trek sebelumnya. Di kiri-kanan jalan menuju puncak, gue temui beberapa kolam air (sebenernya lebih cocok disebut genangan air) yang dianggap suci oleh warga sekitar Gunung Kinabalu—Warga Kadazan Dusun. Air dari kolam ini dipercaya bisa menjadi penolak bala. Bener gak ya? :/

Menurut gue Gunung Kinabalu ini sangat unik, tiap sudutnya sangat cantik dan sayang untuk tidak diabadikan. Mungkin karena di Indonesia tidak ada gunung yang serupa dengan gunung ini. Jika diperhatikan, banyak bebatuan yang memiliki bentuk yang berbeda dan unik antara satu dan yang lainnya, beberapa diantaranya adalah puncak-puncak dari Gunung Kinabalu. Ada 7 puncak dari Gunung Kinabalu, yaitu Low's Peak (4.095 mdpl), St. John's Peak (4.092 mdpl), Victoria Peak (4.088 mdpl), Ugly Sister Peak (4.032 mdpl), Donkey Ears (4.054 mdpl), King Edward Peak, dan Tungu Abdul Rahman Peak.

Dengan sisa-sia tenaga yang ada, gue tetap melangkah pasti agak sesegera mungkin bisa sampai di puncak. Walaupun sebenarnya lebih banyak memotret dibandingkan jalan. Hahaha. Alhasil gue lumayan jauh tertinggal dari teman-teman lain yang lebih fokus terus mendaki. 
Puncaknya dekat di mata, jauh di dengkul! x)

Kolam air kecil yang disucikan oleh warga Kadazan Dusun

Sorakan teman-teman dari puncak seakan menambah energi untuk lebih cepat berjalan. Pijakan demi pijakan batu bisa gue lewati lebih mudah dari sebelumnya. Sesekali gue melihat ke arah teman-teman yang masih semangat menyemangati gue untuk segera sampai di puncak.
"YEAAAH!! Akhirnya sampai!" Ada rasa haru dan bahagia karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di gunung impian gue, gunung pertama dengan ketinggian 4.000-an. 

SABAHSKWAD berada di ketinggian 4.095 mdpl, Low's Peak, Gunung Kinabalu.

SABAHSKWAD FULL TEAM! BULI BAH KALO KAU!

Karena hanya kami yang tersisa, kami lebih leluasa untuk berfoto dan bersantai di puncak. Gue dan Satya meminta Bobby untuk menyanyikan lagu Kinabalu yang sejak hari pertama di Sabah sudah menemani perjalanan kami.
"Tinggi tinggi Gunung Kinabalu
Tinggi lagi sayang sama kamu
biru-biru hujung kinabalu tengok dari jauh 
hati saya rindu...

Kinabalu dekat di kundasang
banyak sayur bulih pilih pilih
apa guna pergi luar negeri naik kinabalu 
hati saya rindu..."

***
Pendaki yang tersisa di puncak hanyalah tim kami, pendaki lainnya sudah lebih awal untuk turun karena harus bergegas tiba di Laban Rata Resthouse dan langsung turun sampai ke Kinabalu HQ. Beruntungnya kami diberi 1 malam extra untuk tinggal di Laban Rata Resthouse. Jadinya kami tidak perlu terburu-buru untuk turun dan bisa puas explore sudut-sudut gunung ini. Bahkan saking santainya kami berkali-kali berhenti dan mengambil foto dan video untuk kebutuhan dokumentasi.
Pendakian dalam rangka memotret Satya :)))


Full of @satyawinnie
Setelah kabut mulai naik, kami pun berjalan lebih cepat karena tidak ada pemandangan yang bisa dilihat. Selain itu berbahaya karena bisa membuat tim kami mengalami disorientasi. Sepanjang jalan turun, gue akhirnya menyadari jika trek yang dilalui saat naik cukup menantang. Belum lagi trek tangga ngeselin yang panjaaaaaaang banget!

Setelah berjalan sekitar 30 menit dari Pos Sayat-sayat, akhirnya mulai terlihat bangunan-bangunan resthouse yang dijadikan tempat istirahat bagi pendaki. Yang paling gue tunggu-tunggu adalah bisa makan enak setelah lelah summit attack. Kapan lagi coba bisa dimanjakan dengan fasilitas ala hotel di gunung?

Trek tangga ngeselin 1.0

Trek tangga ngeselin 1.1 :))

TADAAAAA.. Waktunya makan enak!!!
Mari makaaaaan!

Viewnya ajibb kaya gini!

Perjalanan ini disponsori oleh Sabah Tourism Board dan di-arrange oleh Basecamp Adventure. So, buat kalian yang mau kesini dan gak mau pusing mengurus perizinannya, langsung kontak instagram @basecamp.adventure atau email info@basecampeadventureindonesia.com :)


Salam,



-mrizag-