Maudu Lompoa, Semarak Peringatan Hari Lahir Rasulullah SAW di Takalar

3:09:00 PM

Sedari pagi buta saya dan beberapa teman sudah terjaga dari tidur nyenyak kami. Perlu usaha extra untuk membuat kelopak mata terbuka dan segera beranjak dari kasur empuk nan lembut yang memanjakan kami semalaman, terlebih dari beberapa hari lalu sesampainya di Makassar, kegiatan kami hanyalah tidur, tidur, dan tidur. Tapi pagi hari ini saya harus bergegas pergi untuk melihat langsung ramainya sebuah tradisi unik yang diselenggarakan di sebuah desa di Takalar, Sulawesi Selatan. Kegiatan itu difokuskan di Desa Cikoang, berjarak sekitar 55 km dari kota Makassar atau sekitar 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Itu menjadi sebab mengapa kami semua berangkat dari pagi sekali, karna jarak yang terbilang tidak dekat dan tentunya tidak mau ketinggalan momen sedikitpun.

Saya dan tiga orang teman—Ai, Hendi, dan Aris—segera keluar kamar dan berangkat menuju daerah yang dituju. Sebelumnya, re-group bersama dua teman lainnya dari InstaMakassar yang ikut bergabung untuk melihat tradisi tersebut. Langit masih gelap saat kami beranjak meninggalkan kota Makassar, namun seketika berganti terang saat dibangunkan Ai. Mobil sudah terparkir rapi di beranda sebuah rumah kayu panggung. 2 jam perjalanan terlewatkan tak terasa, ya iyalah wong kita semua tidur membiarkan Ai asyik mengendarai mobil seorang diri. Hahaha... Untungnya Ai tetap sabar dan tak protes dengan kelakuan kami yang berlagak seperti majikan.

Akhirnya tiba di Cikoang. Deretan rumah kayu panggung berjajar teratur sekeliling pandangan. Mayoritas rumahnya berbentuk seperti itu, hanya satu - dua rumah saja yang berdinding tembok. Mungkin ini salah satu ciri khasnya dari Desa Cikoang.

Salah satu kapal atau julung-julung untuk peringatan Maudu Lompoa.
Pagi itu masih belum terlalu ramai, saya dan yang lainnya berjalan mendekat ke arah jembatan penghubung yang agak ramai dengan kerumunan orang. Di bawahnya terdapat sebuah sungai yang lumayan besar. Puluhan perahu berhias kain berwana - warni terlihat bertengger di sepanjang tepi sungai itu. Menurut yang saya baca, perahu-perahu itu disebut julung-julung, dan hanya perahu berhias kain itulah yang saya ingat jelas dari semua hal mengenai tradisi desa Cikoang itu.

Satu per satu julung-julung mulai bergerak maju, berkumpul di sebuah titik yang menjadi tempat berkumpul semua perahu -perahu itu. Seketika suasana pun menjadi ramai, riuh dengan sekumpulan warga yang berlomba - lomba untuk mendokumentasikan dan menyaksikan moment tersebut. Saya pun tidak mau kalah dengan warga-warga untuk menjepret sebanyak mungkin momen yang ada.

Di beberapa kapal dan kaos yang warga gunakan, terdapat sebuah tulisan "Maudu Lompoa 2016". Ya, Maudu Lompoa adalah nama dari acara besar ini, yang berarti Maulid Besar. Acara ini dimaksudkan untuk memperingati hari lahirnya baginda Rasul—Nabi Muhammad SAW—dan sebagai bukti betapa cintanya warga-warga Kabupaten Takalar terhadap Rasulullah SAW serta keluarganya. Biasanya dilaksanakan pada akhir bulan Rabiul Awal dan dijadikan sebagai puncak acara kegiatan Maulid Nabi.

Beberapa bahan makanan dan hiasan yang terdapat pada julung-julung.
Selain kain warna-warni yang digunakan untuk menghias julung-julung, kapal itu harus diisi dengan berbagai macam bahan makanan; seperti minyak kelapa, daging ayam, songkolo atau olahan ketan yang dibuat setengah masak, dan juga telur dengan berbagai macam warna. Acara ini sangat sakral bagi mereka, semua dipersiapkan dengan sebaik mungkin. Semua bahan yang menjadi syarat harus terjauh dari berbagai hal yang berbau najis; contohnya sebulan sebelum acara, ayam yang dijadikan salah satu syarat acara Maudu Lompoa dikurung, dengan maksud agar ayam tersebut tidak mengkonsumsi sesuatu yang bisa jadi terdapat najis. Selain itu, pengisi bakul pun harus seorang perempuan yang suci dari hadas dan najis. Sebenarnya dari dua hal yang disebutkan tadi, masih banyak hal yang menjadi perhatian warga untuk menjalankan acara ini.

Warna - warni kain menjadi hiasan julung-julung.

Kerumunan sebagian warga menarik perhatian saya. Mereka bersorak dan bertepuk tangan bak pemandu sorak menyemangati grup pemain basket yang sedang bertanding. Sayapun mendekati kerumunan itu, dan mencoba menorobos untuk bisa berdiri di lapisan paling depan. Walaupun agak sulit, akhirnya saya berhasil menerobos kerumunan itu. Rasa penasaran saya pun terjawab, ternyata warga-warga itu menyoraki dua anak kecil yang seakan-akan sengaja diadu. Tapi jangan salah, dua anak kecil tersebut bukan berkelahi betulan. Ini merupakan sebuah pertunjukan lainnya yang mereka pentaskan untuk memeriahkan acara Maudu Lompoa. Nama dari seni bela diri tersebut adalah Pamanca. Sesekali siraman air membasahi kerumunan, menambah keseruan dari pementasan seni bela diri Pamanca ini. Pementasan Pamanca biasanya diiringi musik ganrang yang menjadi musik khas dari Sulawesi Selatan. Setelah beberapa lama memperhatikan, akhirnya saya pun bisa menyimpulkan bagaimana pemenang bisa ditentukan. Pemenang ditentukan dengan siapa yang tercepat bisa mengambil peci atau kopiah dari kepala lawan.

Pamanca merupakan seni bela diri dari Sulawesi Selatan dan jadi salah satu pementasan
dalam acara Maudu Lompoa di Desa Cikoang.
Ramai dan akbarnya acara ini membuat saya sedikit bingung, karena beberapa kegiatan berlangsung secara bersamaan dengan spot yang berbeda. Namun hal ini tidak mengurangi ketertarikan saya untuk ikut serta dalam peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW ini. Sejujurnya mengunjungi acara ini adalah agenda spontan karna ajakan dari Ai dan teman-teman dari InstaMakassar, karna sebelumnya saya bahkan tidak tahu menahu bahwa di Sulawesi Selatan terdapat acara Maulid Nabi akbar seperti ini. Tapi ternyata, acara ini sudah banyak diketahui banyak orang, pengunjung yang datangpun bukan hanya dari Kecamatan Takalar. Melainkan dari luar daerah, seperti dari kota Makassar, Gowa, dan bahkan dari luar negeri.

Puluhan warga bergotong royong mengarak replika julung-julung mengelilingi desa.
Di luar dari meriahnya acara ini, inti dari semuanya adalah sebuah prosesi yang dikenal dengan nama Rate' atau membaca syair - syair atau shalawat untuk Rasulullah SAW serta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Rate' merupakan kitab karya Sayyid Jalaluddin Al'Aidid, seorang keturunan Aceh yang pertama kali membawa ajaran agama Islam di Desa Cikoang. Prosesi ini biasanya dilakukan di sebuah pondok besar, warga disini menyebutnya Bala Lompoa (Rumah Besar).

Ditengah-tengah acara, saya sedikit berbincang dengan salah satu tokoh masyarakat di daerah tersebut. Beliau menyebutkan, bahwa dengan berlangsungnya acara Maudu Lompoa yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya, terdapat sebuat harapan agar bisa menumbuhkan dan menambah rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi panutan kaum muslim di seluruh dunia. Kegiatan ini pun saya rasa bisa menjadi momen dimana seluruh warga berkumpul, bersilaturahmi antar satu dengan yang lainnya.

Semoga acara Maudu Lompoa ini bisa tetap diadakan tiap tahunnya, dan juga tidak menghilangkan maksud utamanya; yaitu memperingati hari lahir baginda Nabi Muhammad SAW serta menambah rasa cinta kita terhadapnya.

Ekspreksi suka cita warga Desa Cikoang dalam peringatan Maudu Lompoa
dengan menceburkan diri ke Sungai Cikoang.


Salam,

-mrizag-



You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Catch me on FB :)

Flickr Images

Instagram