Masih tergambar jelas dalam ingatan pemandangan bukit - bukit hijau, kokohnya Puncak Gajah Mungkur dan Puncak Sumbing, serta sebuah kubah lava dari kunjungan ke areal obyek wisata Gunung Kelud tahun 2012 lalu. Gunung Kelud banyak dikenal hanya merupakan sebuah gunung wisata, yang mana sudah dibuat jalan mulus untuk sampai ke dekat puncaknya. Akses mudah ini bisa dilalui dari Wates, Kabupaten Kediri. Para pengunjung bisa menggunakan kendaraan bermotor, dan memarkirkannya di sebuah pelataran parkir yang sudah disediakan pengelola obyek wisata.

Bukit - bukit hijau di areal obyek wisata Gunung Kelud (pic courtesy Edwin. November 2012)
3 tahun berlalu setelah kunjungan terakhir ke gunung ini, muncul keinginan untuk kembali mendatangi gunung yang dikenal sebagai salah satu gunung teraktif di Pulau Jawa ini. Erupsi yang terjadi pada awal tahun 2014 lalu pastinya merubah rupa Gunung Kelud secara keseluruhan. Apalagi letusan terakhir itu disebut sebagai letusan terbesar sepanjang sejarah erupsi gunung tersebut. Terbukti dengan tercatatnya gempa yang terjadi mencapai 1.000 kali, lontaran material hingga 17 km, dan tersebarnya debu vulkanik hingga ke daerah Bandung, Jawa Barat. Tak terbayangkan bagaimana hebatnya letusan yang terjadi kala itu.

Puncak Sumbing dari puncak Kelud. (November 2012)
Rasa penasaran akan efek dari erupsi tahun 2014 lalu mengantarkan saya mengunjungi lagi Gunung Kelud untuk menengok kondisi pasca erupsi. Setelah kegiatan World Wide Instameet 12 di Bromo, saya menyengaja untuk tidak langsung beranjak pulang ke Bandung. Berencana untuk singgah ke satu atau dua gunung di Jawa Timur yang selalu jadi favorit. Awalnya hendak ke Gunung Arjuno - Welirang, namun dikabarkan gunung tersebut masih ditutup untuk kegiatan pendakian karna terdapat beberapa titik kebakaran. Spontan saya langsung memutuskan untuk mendaki Gunung Kelud, dan langsung mengontak beberapa teman di Malang dan Blitar supaya bisa mengantar.

Seorang teman dari Malangkak Ancehsiap mengantar. Dari jam 2 siang saya sudah stand by di Terminal Arjosari, Malang. Bus dengan tujuan Blitar pun sudah siap, namun masih menunggu kursi terisi penuh untuk mulai bergerak meninggalkan terminal. Kak Anceh menunggu saya di pool bus Kacuk dan ikut menggunakan bus yang sama menuju Wlingi.

Dikenal sebagai gunung wisata, sebenarnya Gunung Kelud memiliki jalur lainnya yang terbilang cukup menantang. Salah satunya melalui Desa Tulungrejo, Gandusari, Wlingi, Kab. Blitar. Setidaknya ada tiga pos yang harus dilewati di jalur ini. Berbeda dengan jalur lainnya, pendakian via Tulungrejo akan membawa para pendaki untuk lebih dekat ke bibir kawah sisa erupsi. Walaupun hanya memiliki tinggi 1.731 mdpl, namun trek menuju bibir kawah tidak bisa diremehkan. Banyak tanjakan dengan medan yang sulit yang akan membuat pendaki ngos - ngosan.

Kubah lava sebelum erupsi tahun 2012



























Sampai di basecamp pendakian sekitar pukul 07.00 malam. Basecamp pendakian Gunung Kelud via Tulungrejo merupakan sebuah rumah milik Pak Dasuki. Setelah menulis buku pengunjung, saya dan kak Anceh pamit untuk mulai mendaki malam itu juga. Baiknya Pak Dasuki, beliau menawarkan untuk mengantarkan kami dengan motor tuanya hingga batas jalanan aspal sebelum masuk ke hutan. Beruntungnya kami bisa sedikit menghemat waktu pendakian. Dan ternyata jalanan aspal dari basecamp menuju batas hutan sangatlah panjang.

Basecamp pendakian Gunung Kelud via Tulungrejo. (Oktober, 2015)
Trek awal sedikit menanjak melewati pohon - pohon pinus yang memenuhi hampir seluruh area hutan di kaki Gunung Kelud via Tulungrejo. Semakin jauh berjalan, trek akan semakin menanjak. Menuju pos 1, masih ditemui beberapa bonus yang bisa membuat dengkul sedikit bersantai ria. Setelah hiking santai sekitar 60 menit, akhirnya sampai di pos 1. Pos 1 ditandai dengan adanya sebuah shelter yang cukup luas.

Perjalanan berikutnya semakin berat, trek terus menanjak dan semakin menanjak. Vegetasi mulai berubah menjadi tumbuhan semak sepanjang jalan. Banyak terdapat tumbuhan merambat yang melintas di atas kepala, sehingga sesekali harus merunduk. Selain itu tumbuhan berduri pun banyak ditemui dengan dirasanya tusukan - tusukan kecil di permukaan kulit lengan. Sama dengan perjalanan dari batas hutan hingga ke pos 1, waktu tempuh ke pos 2 pun menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Pos 2 hanya merupakan tanah datar yang sempit, juga sedikit tertutup.

Malam semakin gelap. Hening, sepi... Hanya terdengar suara daun-daun yang tergerak karna tiupan angin. Terkadang suara serangga dan suara gesekan badan dengan semak di kiri - kanan jalan yang sedikit mengusik sepinya perjalanan malam kali ini. Tidak ada pendaki satu pun hari ini yang mendaki ke atas kata Pak Dasuki. "Yes!!" gumam saya dalam hati, karna artinya bisa puas menikmati indahnya alam Gunung Kelud hanya berdua dengan seniyor Kak Anceh.

Kami terus berjalan, menikmati tiap tanjakan yang disuguhkan. Kurang dari 30 menitsetelah melewati jalur dengan penuh ilalang tinggiakhirnya kami sampai di sebuah tanah yang lumayan lapang dan terbuka. Kira-kira cukup untuk 4 - 5 tenda berkapasitas 4 orang. "Alhamdulillah, sampai di pos 3 juga", keluar juga suara kak Anceh yang sepanjang jalan tadi tidak terdengar. Pos 3 biasa digunakan pendaki untuk mendirikan tenda dan beristirahat hingga pagi untuk meneruskan perjalanan ke puncak. Di pos 3 juga terdapat sebuah bivoak (bivaktenda darurat) alam yang dibuat dari kumpulan ranting dan ilalang. 

Kalau disuruh memilih jam tepat untuk mendaki, sebenarnya saya lebih suka trekking di pagi atau siang hari, walaupun beberapa pendaki bilang jika trekking malam itu tidak terasa capek. Kondisi malam yang gelap, sangat membatasi pandangan kita selama berjalan, sama sekali tidak bisa menikmati pemandangan yang dilewati. Terlebih, tidak bisa memotret banyak momen di sepanjang perjalanan. Namun semuanya kembali pada preferensi masing - masing.

Sunrise dibalik pegunungan putri tidurPanderman, Buthak, Kawi.
Dari sisi timur, rona langit yang gelap perlahan menguning. Matahari menyeruak tepat di balik pegunungan putri tidur  Panderman, Buthak, dan Kawi. Megahnya Puncak Gajahmungkur yang sudah berubah rupapun menyapa kami pagi itu. Sebuah puncak gundul nan tandus, yang dulunya dipenuhi hijau - hijau tumbuhan tampak angkuh di sisi barat pos 3. Puncak ini menjadi tujuan perjalanan hari ini.

Sebelum matahari meninggi, kami bergegas untuk berkemas sedikit cemilan dan bekal minuman untuk perjalanan ke bibir kawah. Tenda dan beberapa perlengkapan lainnya kami tinggalkan di pos 3.

Puncak Gajahmungkur yang berevolusi.
Deretan bukit tandus sisa erupsi.


Perjalanan ke bibir kawah ditempuh sekitar 1,5 jam dengan berjalan santai. Jalur dari spot berkemah sedikit menurun, menerobos jalanan yang tertutup dengan ilalang dan tumbuhan semak tinggi. Sampai di ujung jalan, trek menjadi menurun tajam. Dari turunan ini terlihat jelas jalur yang harus dilewati untuk sampai tepat di bawah puncak Gajahmungkur. Ada 2 undakan yang harus dilewati. Setelah melewati undakan pertama, trek berubah menjadi sebuah tanah pasir dengan banyak kerikil kecil. Tanjakan yang kedua lebih curam dan didominasi batu yang licin sehingga harus lebih berhati - hati untuk berpijak.

Punggungan menuju bibir kawah.

Setelah undakan pertama.


Tanjakan terakhir!
Lelah berjalan semalam dan rasa penasaran saya dengan kondisi pasca erupsi 2014 terbayar sudah setelah melalui tanjakan yang kedua. Kelud yang terakhir ditemui merupakan sebuah gunung dengan bukit - bukit hijau, tidak nampak hijau sama sekali. Sampai di atas seperti datang ke planet lain. Tanah luas terhampar dengan beberapa pucuk runcing yang tandus. Bibir kawah masih jauh dari pandangan. Dataran tanah berpasir dengan kontur penuh cerukan panjang membentang seperti menghadang para pendaki yang akan berjalan mendekat ke kawah.

Dataran tanah berpasir dengan kontur penuh cerukan panjang membentang seperti menghadang para pendaki yang akan berjalan mendekat ke kawah.


Awalnya sempat ragu untuk terus berjalan karna kondisi kikisan tanah terbilang cukup dalam. Sempat mengambil jalan memotong diagonal langsung ke arah kawah, namun jalan terputus karna menemui patahan tanah cukup dalam yang tidak memungkinkan untuk dituruni dan dipanjat. Akhirnya kami memilih untuk memutar arah dan menyusuri pangkal dataran di bagian atas. Walaupun sangat memutar, namun pilihan untuk menyusuri pangkal jalan jadi pilihan tepat karna akhirnya bisa juga menengok kawah yang belum lama terbentuk ini. Kubah lava yang dulu jadi salah satu atraksi obyek wisata gunung kelud, kini menjadi lubang kawah yang luas. Puncak Sumbing masih berdiri setia disebrang posisi kami berdiri. Setelah berfoto - foto sejenak, kami memutuskan untuk segera kembali ke tempat berkemah mengingat waktu semakin siang dan bekal minum sudah menipis,

Kawah Gunung Kelud yang baru serta Puncak Sumbing berdiri di belakangnya.
Betapa dahsyatnya efek dari letusan tahun 2014 lalu, merubah hampir seluruh area Gunung Kelud. Alam memang selalu tidak bisa ditebak, di balik keindahannya tersembunyi kekuatan yang bisa kapan saja dikeluarkan dan meluluhlantakkan daerah sekitarnya. Bertemanlah dengan alam dengan terus melestarikan keasliannya, mengunjungi tanpa mengganggu, dan menjaga agar alam tetap seperti sediakala.

Izinkanlah anakcucu kita merasakan indah dan kayanya alam Indonesia! :)

@mrizag! x)

How to get there:
- dari Terminal Arjosari, Malang menggunakan bus tujuan Blitar (turun di Kawudanan/Wlingi) ; dari Jakarta / Malang (menggunakan kereta api), turun di Stasiun Wlingi.
- dari Wlingi menggunakan ojek motor karna kendaraan ke desa sangat jarang.

Trip tricks:
- gunakan pakaian tertutup karna hampir sepanjang perjalanan melewati semak tinggi dan rapat yang menghalangi jalan
- bawalah cadangan air lebih banyak, trek menuju bibir kawah sangat gersang, terlebih jika melakukan pendakian siang hari

Xplore Xpense:
- ongkos bus terminal Arjosari, Malang - Wlingi      Rp 15.000,-
- ojek Wlingi - basecamp pendakian   Rp 30.000,-
- retribusi pendakian     Rp 50.000,- (tidak ada pungutan, kita kasih seikhlashnya)


salam,

@mrizag!