Pendakian Gunung Bukit Raya: TABAH SAMPAI AKHIR !

2:37:00 PM

RANTAU MALAM - KORONG HP - HULU MENYANOI - SUNGAI MANGAN

go go power rangers! ~

full team | Namma, Heru, Fakhri, saia, dan Anggey.

4 hari sudah kami habiskan sejak memulai perjalanan dari Pontianak, dan pendakian baru akan dimulai hari ini. Kami harus terbangun pagi buta karna mendapat kabar bahwa porter yang tadinya akan mengantar dan menjadi penunjuk jalan selama pendakian tiba - tiba mengurungkan niatnya, alasannya sih karna kurang enak badan, tapi saya sedikit berasumsi pastilah karna bayaran yang dia rasa kurang banyak. Tak ada waktu lagi untuk berlama - lama mencari porter, karna sebenarnya pendakian harusnya dimulai dari kemarin, kami tidak ingin menunda pendakian lagi sampai besok atau bahkan lusa. Jadinya kami berinisiatif untuk mencari sendiri, dan akhirnya mendapatkan porter pengganti yang bersedia mengantar kami. Namun drama masih berlanjut, sang pendamping dari taman nasional bersikukuh ingin mencari porter sesuai dengan pilihannya. what the f***.. entah maunya apa, maksudnya apa, kekesalan kami pada pendamping dari taman nasional itu makin menumpuk. Diawali dari fakta bahwa utusan taman nasional itu belum pernah sama sekali mendaki Gunung Bukit Raya, dan berlanjut dengan ke-sok-tau-annya mengenai banyak hal tentang pendakian. Dan mungkin akan terus bertambah dengan hal - hal lainnya. Disini saya merasa sangat kecewa dengan pengelola Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya yang menugaskan  orang yang tidak berkompeten.

Drama yang tak kunjung usai terus menerus terjadi di pagi sebelum kami memulai pendakian. Seringkali pemahaman dari petugas taman nasional yang tidak kami mengerti; waktu terbatas, dia sengaja mencari porter ke desa sebelah, yang mana membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya tambahan untuk membayar jasa ojek. Bahkan dia mengancam untuk melaporkan kami ke pengelola taman nasional dan tidak akan pergi mendamping hanya karna masalah logistik, padahal sudah kami siapkan dengan baik.

Matahari semakin naik dan terik, kami pun meninggalkan basecamp dibonceng para ojek. Ojek jadi pilihan satu-satunya, mengingat waktu yang semakin siang dan jarak yang lumayan panjang menuju pintu rimba bernama Korong HP. Dibutuhkan waktu sekitar 20 menit menggunakan sepeda motor, dan dua hingga tiga jam jika memilih berjalan kaki. Trek yang dilewati adalah jalanan tanah bekas peninggalan perusahaan logging yang jika hujan turun medannya akan sangat menantang dengan tanjakan dan turunan tajam. Beberapa kali saya harus turun saat tanjakan, dan memegang handle bagian belakang saat melewati turunan tajam nan licin yang bisa saja membuat motor terpeleset dan jatuh.

jalanan menuju Korong HP



Korong HP (450 mdpl), satu - satunya spot yang terdapat sinyal seluler, mungkin itulah alasan disebut Korong HP. Pendakian dimulai dengan doa bersama agar setiap perjalanan kami diberi kelancaran dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Langkah kaki kami beranjak memasuki kawasan hutan yang lebih rapat. Jalanan yang dilewati sangat rapat, kiri kanan jalan hampir tertutup semak - semak yang cukup tinggi.

Korong HP

Ritme langkah kami masih sangat santai sembari menikmati hutan hujan tropis rapat khas Kalimantan. Trek pun masih terbilang sangat bersahabat, masih landai, sesekali naik - turun punggungan. Sekitar dua jam sepuluh menit berjalan, akhirnya menemukan sebuah tanah lapang dengan sisa batang - batang pohon tersusun rapih yang biasa dipakai untuk pondasi membuat tenda darurat (bivak), artinya tanah lapang ini biasa digunakan untuk berkemah. Tidak ada plang atau tanda apapun di jalur ini, mungkin kurang diperhatikan karna sangat sedikit pendaki yang berminat untuk mendaki gunung ini. Karna sudah jelas, letaknya yang sangat terpencil dan biaya yang mahal menjadi sebab jarangnya pendaki yang melakukan aktivitas pendakian disini. Itu juga menjadi salah satu faktor disarankannya menggunakan porter disetiap pendakian, karena jalanannya yang kurang jelas, minim petunjuk, dan juga banyak percabangan di sepanjang jalur. Bahkan saking jarangnya didaki, dalam setahun bisa jadi hanya 5 - 10 rombongan saja yang mendaki Gunung Bukit Raya.

Hulu Menyanoi

Kami pun membongkar sedikit perbekalan kami untuk sekedar mengisi energi agar tetap kuat melanjutkan perjalanan. Menurut porter, tempat ini adalah Hulu Sungai Menyanoi, memang sering digunakan untuk berkemah karna terdapat sungai kecil disampingnya. Sekitar jam 3 sore, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Sungai Mangan. Sungai yang menjadi sumber air di Hulu Sungai Menyanoi kami lewati saat melanjutkan perjalanan. Trek pendakian masih naik - turun punggungan, juga melewati beberapa sungai kecil. Mendekati camp Sungai Mangan, jalanan setapak berubah menjadi menurun, dan setelah itu akan dijumpai sebuah camp yang mampu menampung 4 - 5 tenda. Waktu tempuh dari Hulu Sungai Menyanoi ke Sungai Mangan sekitar 1 jam dengan ritme jalan yang santai.

SUNGAI MANGAN - HULU RABANG - JELUNDUNG (CAMP TAWON)

Hari kedua pendakian dimulai terlalu siang, maka ritme jalan kami pun harus diatur cepat agar tidak bertemu malam di perjalanan. Start dari camp Sungai Mangan (668 mdpl) sekitar jam 09.30, kondisi hutan masih tertutup dengan kanopi - kanopi hutan yang rapat dan pepohonan yang menjulang tinggi. Jalanan mulai menanjak setelah  meninggalkan camp Sungai Mangan tempat  kami bermalam. Hutan dengan kondisi ini menyebabkan pandangan terbatas, tidak ada pemandangan yang bisa dilihat sama sekali, kecuali pohon, semak - semak, atau tanah lembab tertutup dedaunan. Kami terpaksa harus tetap sabar berada di kedalaman hutan tanpa pemandangan, padahal seringkali pemandangan menjadi obat lelah saat melakukan pendakian. Camp berikutnya adalah Hulu Rabang (708 mdpl), kami sampai disana setelah melakukan perjalanan sekitar 3 jam. Hulu Rabang merupakan camp dengan tanah yang datar dan cukup luas, sangat cocok untuk dijadikan tempat bermalam karna selain cukup untuk banyak tenda, juga terdapat sebuah sungai lebar dengan air jernih yang melimpah.

sungai jernih di Hulu Rabang

Hulu Rabang.

Medan perjalanan berikutnya akan terus menanjak dengan banyak batang pohon tumbang yang akan menghalangi perjalanan. Sesekali kami harus merangkak dan memanjat batang pohon tersebut. Dan gangguan lainnya datang dari drakula penghisap darah, binatang ini menemani perjalanan kami dari mulai memasuki hutan. Setiap kali berhenti, kami selalu memeriksa setiap bagian tubuh kami agar terhindar dari serangan hewan tersebut. Kondisi tanah yang lembab menyebabkan pacet sangat banyak berkembang biak disini, dari awal pendakian bahkan hingga puncak akan ditemui binatang ini. Macamnya pun berbeda - beda dari yang berwarna hitam, loreng, dan bercorak.

agresi pacet, bermandikan darah~

Jalanan yang terus menanjak membuat langkah kaki melambat. Ditambah hal lain yang tidak biasa di gunung ini, adalah hawanya yang sangat panas, mungkin  faktor dari letak geografis Kalimantan yang berada di garis equator dan juga karna sangat tertutupnya hutan disini. Dilema antara harus bertahan dengan mengenakan baju tapi banjir keringat, atau melepas baju tapi harus siap dengan hisapan sang pacet yang bisa kapan saja menempel di badan kita.

Kaki terus melaju walaupun perlahan, banyak faktor menyebabkan pendakian hari kedua ini sangat melelahkan. 3 jam lebih sudah berjalan, namun trek terus menanjak, tidak ada satupun tanda - tanda lahan datar yang menunjukan sebagai tempat camp berikutnya.

Jeritan suara perempuan yang mengejutkan, datang dari arah depan. Jelas itu merupakan suara Anggey karna dia adalah satu - satunya perempuan di team kami. Sayapun bergegas maju untuk segera menghampiri dia. Sebelum menemukan Anggey, beberapa sengatan di bagian badan terasa, oh sh*t! Rasanya ngilu. Sambil berteriak, saya pun berlari menjauh dari tempat pertama saya mendapatkan serangan itu. 

Akhirnya saya menemukan dia dengan Heru. Ternyata sengatan tadi berasal dari kerumunan tawon yang sarangnya tepat berada di tengah trek. Setelah memaksakan diri untuk terus berjalan menghindari dari ancaman tawon, kami memutuskan untuk mencari tempat untuk mendirikan tenda karna sengatan dari tawon terus terasa dan menyebabkan rasa lemas. Disulaplah medan yang miring menjadi camp seadanya. Yang terpenting malam ini kami beristirahat, karna sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.

Sungguh bukan perjalanan yang biasa, semua satu paket menjadi perjalanan dengan pengalaman yang baru dan banyak cerita. Sesegera mungkin mencoba memejamkan mata setelah semua bersiap untuk beristirahat, dengan harapan rasa sakit akibat sengatan tawon tadi akan hilang pada keesokan harinya.

CAMP TAWON - JELUNDUNG - LINANG - SOWA TOHOTONG

Alhamdulillah rasa sakit karna gigitan tawon seketika hilang saat saya terbangun, bisa melanjutkan kembali perjalanan yang masih panjang menuju titik tertinggi di Pulau Kalimantan. Kami memulai perjalanan kembali pada jam 09.20 WIB. Dan yang menjengkelkan, setalah 15 menit berjalan, dijumpailah sebuah tanah lapang yang bisa jadi adalah camp Hulu Jelundung (1.300 mdpl). Hahaha. Memang cobaan di hari kedua kemarin cukup berat, padahal jika sedikit berusaha untuk terus mendaki, kami tidak perlu bersusah - susah untuk membabad tanah miring supaya bisa digunakan untuk membuat tenda.

dipaksa merangkak, memanjat batang pohon yang menghalangi trek.

Tanjakan demi tanjakan kami lewati. Semakin lama berjalan, treknya semakin menanjak, sungguh menguras tenaga. Tapi mendekati camp Linang trekpun berubah melandai, melewati turunan panjang, lalu menanjak lagi. Benar - benar dihajar naik - turun punggungan. Yang jadi permasalahan adalah saat turun, turunnya bukan turun sesungguhnya, tapi akan kembali melewati turunan dan tanjakan lagi. Subhanallah.... Pendakian kali ini benar - benar harus tabah sampai akhir. -_-"


Dari Linang, jalanan masih terus menanjak. Setelah berjalan sekitar dua jam, kami tiba di sebuah percabangan jalur. Ternyata jalur ke kiri merupakan arah menuju puncak, tetapi kami mengambil jalan lurus karena kami harus mendirikan tenda di camp selanjutnya yaitu Sowa Tohotong. Tidak jauh dari percabangan. setelah melewati sungai kecil ditemukan juga sumber air yang lebih besar dekat camp. Tiba di camp Sowa Tohotong (1.557 mdpl) sekitar jam 14.16 WIB, artinya perjalanan dari camp tawon sampai ke camp terakhir ini menghabiskan waktu selama empat jam lebih.


Selama pendakian ini, kami mempunyai aktivitas rutin sebelum tidur, yaitu membersihkan tenda kami supaya terhindar dari pacet. Mendaki gunung ini seperti datang ke kerajaan pacet, setiap detiknya pacet bisa saja menghampiri kita, untuk mencumbu bagian tubuh kita, dan menghisap darahnya. Hal unik lainnya, dan pertama kali terjadi di sepanjang sejarang pendakian saya, saya tidur dengan kondisi kegerahan, tidur tanpa sleeping bag, bahkan tanpa baju. Luar biasa ya Gunung Bukit Raya! ;)

SOWA TOHOTONG - PUNCAK KAKAM

Menuju Puncak Kakam, kami harus kembali ke jalur pertigaan yang kami lewati kemarin. Dari pertigaan ambil arah ke kanan, trek yang akan dihadapi menuju puncak yaitu trek dengan tanjakan yang terjal. Vegetasi disini sudah mulai lebih rendah dibandingkan pepohonan yang dilewati di perjalanan dua hari sebelumnya. Serangan pacetpun akan berkurang disini, mungkin disebabkan cahaya matahari yang mulai bisa menembus kanopi pohon di daerah sini. Dalam perjalanan ke puncak, kami bertemu dengan beberapa pemburu/pencari kayu Gaharu, mereka bisa bertahan berminggu - minggu di dalam hutan hanya untuk mencari kayu tersebut.



Sampai di batas tebing, ambil jalan ke arah kiri. Jalanan selanjutnya yaitu memutari tebing tersebut. Trek yang awalnya menanjak, berubah menjadi tebing yang harus dipanjat. Barang bawaan yang jauh lebih kecil  ― karena sebagian barang kami tinggal di camp Sowa Tohotong  ― sangat berpengaruh karena beban berkurang sehingga tidak terlalu banyak energi terkuras.


Jalur pendakian berikutnya adalah hutan lumut yang tebal dengan jalur setapak namun banyak percabangan. Jalur ini mengharuskan kita merangkak  ― merunduk, karena terhalang cabang pohon yang turun melintas jalur. Harus lebih fokus dan lebih teliti untuk memilih jalan, disarankan untuk tidak berpisah dengan teman perjalanan. Sekali lagi jangan sekali - kali remehkan alam, optimis hanya membutuhkan waktu singkat untuk sampai puncak, saya pun hanya membawa sedikit air minum. Alhasil sebelum sampai puncak, stok air habis. Lumut - lumut yang banyak menampung tetesan - tetesan air, saya manfaatkan untuk membasahi kerongkongan yang haus. 

Selain menjadi salah satu gunung tertinggi di kategori 7 summits of Indonesia, kawasan Gunung Bukit Raya ini memiliki daya tarik dengan keanekaragaman flora dan faunanya. Terdapat 817 jenis tumbuhan, diantaranya Nepenthes, Dipterocarpaceae, Euphorbiaceae, Ericadeae. Terdapat juga tumbuhan obat - obatan, anggrek hutan, dan juga tumbuhan endemik Rhododengron.

jalur pendakian menuju puncak


Rodhodengron (Azalea), tumbuhan endemik di kawasan TNBB-BR

Nepenthes / Kantung Semar
Pundakan - pundakan bukit jauh disana sudah mulai terlihat, jalur mulai sedikit terbuka, dan suara di depan sedikit menambah semangat untuk terus berjalan. Sedikit lagi puncak! tapi saat sampai di ujung tanjakan, nyatanya dugaan saya salah. Tempat ini hanya merupakan salah satu titik tertinggi disini, bukanlah puncak. Dari titik ini jelas terlihat hamparan hutan lebat yang hanya tertutup pepohonan yang rapat. Sungguh pemandangan yang tidak biasa, andai saja beberapa bagian dari jalur pendakian ini tidak tertutup pohon, pasti jadi bonus bagi para pendaki karena bisa melihat jajaran hutan Kalimantan yang masih penuh dengan pepohonan tinggi.


Jalanan kembali menurun, dan masih melintasi hutan lumut yang rapat. Lalu kembali menanjak, dan setelah itu akan sampai di puncak sebenarnya, Puncak Kakam 2.278 mdpl. Puncak tersebut ditandai dengan adanya plang bertuliskan "Taman Nasional Bukit Raya, Puncak Kakam 2,278 mdpl", juga terdapat 2 pondok pemujaan dengan banyak barang di dekat pondokan tersebut. Hal yang berbada lagi terdapat di puncak gunung ini, puncaknya hanya sebuah tanah lapang di kelilingi pohon yang agak tinggi. Jadi memanjat pohon jadi satu - satunya cara untuk melihat pemandangan dari puncak ini, tapi belum tentu juga pemandangan akan terlihat, karena sesekali kabut akan datang dan menghalangi pemandangan. Sama persis saat saya dan teman - teman sampai di puncak. Seketika langit yang cerah, tertutup kabut tebal yang enggan menghilang walau sudah kami tunggu lama. Namun semua itu tidak menghalangkan rasa bersyukur saya khususnya, telah diberi kesehatanm kekuatan, dan kesempatan untuk bisa sampai di titik tertinggi Pulau Kalimantan ini.

PUNCAK KAKAM !
barang - barang di pondok kayu.
pondokan pemujaan.

maksa manjat, padahal berkabut ! xD
Kami pun sejenak melakukan ritual yang biasa dilakukan saat sampai di puncak. Pak porter memimpin ritual ini, dimulai dengan menaruh butiran - butiran beras di kepala kami dan berdoa untuk segala kabaikan dan rasa syukur karena telah sampai di puncak. Ada perasaan masih tetap berlama - lama di puncak, ego untuk menunggu kondisi akan kembali cerah tanpa kabut, tapi terpaksa kami lawan karna mengingat waktu yang terbatas dan juga berpegang teguh  pada pemikiran; "bahwa puncak dan cuaca cerah itu adalah bonus", selebihnya sudah bisa selamat sepanjang pendakian dan bisa kembali pulang itu adalah nikmat dari pendakian sesungguhnua. Akhirnya, kami memutuskan untuk turun secepatnya dengan perasaan bangga karna berhasil sampai di salah satu titik tertinggi dari titik - titik tertinggi lain 7 summits of Indonesia. Ingat puncak itu hanya bonus, mendapat pemandangan bagus pun hanya bagian dari perjalanan, yang wajib itu kembali pulang.

 SOWA TOHOTONG - RESORT RANTAU MALAM

Sesuai perjanjian kemarin sore, perjalanan akan dilanjutkan pagi ini setelah menambah satu malam di Sowa Tohotong. Setelah dari puncak, fisik kami drop, sehingga diperlukan istirahat ekstra sebelum melakukan perjalanan turun.

Dari Sowa Tohotong akan kami terabas sampai basecamp Rantau Malam hari ini. Start perjalanan dari jam 07.05 WIB. Perjalanan turun diharapkan bisa lancar dan lebih cepat dari jalur naik, karna beban di tas masing - masing setidaknya sudah berkurang.

Bisa sampai di Hulu Rabang sekitar jam 11 siang, membuat kami optimis bisa sampai di basecamp sebelum langit gelap. Halangan - halangan seperti tawon pun, Alhamdulillah tidak kembali ditemukan saat jalan turun. Tapi lima hari lebih berada di kedalaman hutan, ternyata membuat fisik benar - benar tidak fit. Tas carrier padahal sudah lebih ringan, namun bebannya terasa masih sangat berat di punggung. Ditambah jalanan turun yang harusnya menurun, tapi disini malah berundak - undak, yang menyebabkan perjalanan tetap saja harus mendaki. Langkah kaki benar - benar sudah tak bisa dikontrol, jalan se jalannya, bahkan sering berhenti untuk menghela nafas dalam sesekali.

Benar - benar bukan gunung biasa, si mungil dengan ketinggian 2.278 mdpl yang mampu membuat kami semua kewalahan.

Melewati sungai mangan langit mulai berubah gelap, kami tetap memaksakan perjalanan agar bisa sampai di basecamp malam ini juga. Fisik sudah jelas drop, pertama kali ini rasanya kesal karna tak kunjung keluar dari hutan. Mendekati maghrib trek mulai saya kenali, rasanya hampir mendekati pintu rimba. Dengan penuh haru, senang, sedih, bercampur aduk, akhirnya pas dengan adzan maghrib, kami semua berhasil keluar dari hutan dan sampai di Korong HP. 

Pelajaran dari pendakian kali ini, banyak belajar mengenai ketabahan dalam proses.

".....TABAH tidak hanya diawal, tidak juga di pertengahan, tapi TABAH SAMPAI AKHIR" ― Sebuah kalimat penyemangat dari seorang teman Irfan Ramdhani. Menemani sepanjang perjalanan dari awal perjalanan hingga sampai puncak, dan turun. Dikala fisik dan mental drop, yang diperlukan hanya ketabahan, tabah sampai akhir.


FULL TEAM ! thank you guys!




You Might Also Like

1 comments

Popular Posts

Catch me on FB :)

Flickr Images

Instagram