"...Nama gunungnya Bukit Raya. Iya bukit, cuma"bukit". Tingginya pun hanya 2.278 mdpl, kalah tinggi dengan Gunung Gede di Jawa Barat, ataupun Gunung Prau di Wonosobo yang biasa didaki ribuan orang. Pasti mudah lah untuk mendaki gunung ini."

itulah sedikit opini yang terlintas sebelum mendaki Gunung Bukit Raya di Kalimantan. Dan mungkin kebanyakan orang akan mempunyai penilaian yang sama, terlebih para penggiat alam di Jawa yang sudah biasa mendaki gunung dengan ketinggian gunung lebih dari 3.000-an mdpl.

Kebanyakan orang selalu menilai tingkat kesulitan suatu gunung berdasarkan ketinggiannya. Padahal faktanya banyak gunung 3.000-an yang lebih bersahabat. Awal titik pendakian seharusnya menjadi salah satu pertimbangan untuk menilai kesulitan suatu pendakian, disusul dengan tipe trek dan rintangan - rintangan lain yang akan menyambut sepanjang pendakian. Memang kebanyakan gunung di Jawa memiliki ketinggian 2.000 hingga 3.000 mdpl, tapi titik awal pendakiannya cenderung sudah tinggi juga, jadi perbandingan titik awal pendakian dan tinggi si gunung tersebut tidak terlalu banyak.

Contohnya Gunung Semeru di Jawa Timur yang merupakan titik tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl, memiliki titik awal pendakian 2.100 mpdl yang terletak di Desa Ranu Pani. Berbeda dengan Gunung Bukit Raya yang berketinggian 2.278 mdpl, memiliki titik awal pendakian 400 mdpl. So, bisa dihitung perbandingan ketinggiannya, bahwa Bukit Raya memiliki selisih tinggi lebih besar dibandingkan Gunung Semeru.

Bulan April lalu, saya dan salah seorang teman membuktikan langsung betapa "mudahnya" mencapai pucuk Gunung Bukit Raya, yaitu Puncak Kakam. Ini merupakan kali pertama saya melakukan pendakian di pulau Kalimantan. Dirasa masih asing dengan kondisi alam di Kalimantan, kami pun meminta salah satu anggota Mapala Untan (Universitas Tanjungpura) untuk menemani pendakian kali ini.

rute perjalanan Pontianak - Gunung Bukit Raya (source Dr. Yoga)

Gunung Bukit Raya termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, dapat diakses dari dua jalur resmi di provinsi berbeda, karna gunung ini terletak di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, dimana puncaknya masuk ke daerah Kalimantan Tengah. Gunung ini menjadi salah satu gunung tertinggi dalam rangkaian 7 summits Indonesia mewakili titik tertinggi dari Pulau Kalimantan (bagian Indonesia). Karena sebenarnya titik tertinggi Pulau Kalimantan terdapat di Gunung Kinabalu, yang masuk ke teritorial negara Malaysia.  Titik pendakian pertama berada di Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah dan yang kedua adalah jalur yang saya pilih untuk pendakian kali ini; yaitu Desa Rantau Malam, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Menurut info yang didapat, pendakian melalui Kasongan membutuhkan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan jalur via Rantau Malam, namun info pendakian dari jalur kasongan sulit didapat. Oleh karena itu saya memutuskan pendakian melalui Kalimantan Barat yang pada umumnya lebih sering dipilih untuk pendakian ke Gunung Bukit Raya.

Sebelum melakukan pendakian,  kita diharuskan untuk mengurus SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) ke TNBBBR (Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya) dengan mengirim email ke bukitbakabukitraya@gmail.com mengenai maksud pendakian. Nantinya kita akan mendapatkan formulir yang harus diisi dan dikirim ulang. Lalu kita harus mengurusnya langsung ke kantor TNBBBR di Sintang. Mengurus SIMAKSI ini membutuhkan waktu yang cukup lama, oleh karena itu disarankan untuk mengurusnya jauh - jauh hari sebelum pendakian. Beruntung, pada pendakian kali ini SIMAKSI sudah diurus oleh salah satu anggota Mapala Untan yang juga akan ikut pendakian kali ini.

PONTIANAK - NANGA PINOH

Perjalanan dimulai pada hari Sabtu, 25 April 2015. Saya dan Anggey (teman perjalanan saya) merapat ke basecamp Mapala Untan untuk bertemu dengan dua rekan lainnya yang akan menjadi teman perjalanan ke Bukit Raya. Awalnya kami berdua akan nekat pergi untuk melakukan perjalanan. Tapi tanpa disangka, 2 pendaki dari Jakarta berminat untuk bergabung dalam pendakian kali ini. Untunglah, biaya perjalananpun akan bisa sedikit berkurang karna bisa berbagi dengan lebih banyak orang. Perlu diketahui, biaya pendakian ke Bukit Raya ini menjadi kedua termahal setelah Gunung Cartenzs di Papua. Ini dikarenakan letak titik pendakian yang sangat terpencil, dan juga medan perjalanan yang tidak biasa, menjadikan biaya pendakian ini lebih mahal dibanding pendakian 5 gunung lainnya dalam rangkaian 7 summit Indonesia.


Damri yang mengantarkan kami ke Nanga Pinoh sedikit molor dari jadwalnya, seharusnya sudah beranjak pergi sekitar jam 7 malam dari pool damri di Pontianak. Waktu tempuh ke Nanga Pinoh menghabiskan waktu 8 hingga 9 jam, kami manfaatkan sepenuhnya dengan beristirahat sepanjang perjalanan. Mengingat esok harinya harus memulai perjalanan menuju resort Rantau Malam yang menjadi titik awal pendakian Gunung Bukit Raya.

NANGA PINOH - SERAWAI

Armada yang kami tumpangi akhirnya sampai di terminal Nanga Pinoh. Rasanya istirahat semalam belum terasa puas. Mata yang masih terkantuk - kantuk dan badan yang masih malas beranjak dari kursi, dipaksa untuk berjalan keluar bus. Seorang teman dari Mapala Untan yang sudah di Nanga Pinoh sejak 2 hari yang lalu, menyambut kami berempat ketika kami keluar dari bus. Ojek - ojek pun ikut menyambut kami dengan hangatnya, menawarkan jasanya untuk mengantar kami ke tempat penyebrangan di dekat pasar.

Carrier, dan 6 orang beserta pengemudi telah siap menyusuri sungai Melawi dengan boat kapasitas mesin 40PK. Selain kami berempat dan Heru dari Mapala Untan, pendakian kali ini didampingi perwakilan dari TNBBBR. Ini menjadi persyaratan terbaru di TNBBBR, bahwa setiap pendakian wajib didampingi pihak taman nasional.


persiapan mengarungi sungai Melawi

Disinilah yang menjadi faktor tingginya biaya untuk pendakian ke Bukit Raya, karena akses ke tiap - tiap daerah lebih sering menggunakan boat yang mana biayanya lebih mahal. Sebenarnya bisa juga melewati jalur darat, namun harus melewati hutan yang belum jelas bagaimana medan jalanannya. Tapi ini juga menjadi hal unik, karna tidak bisa dialami dalam pendakian gunung lainnya.



4 jam menyusuri sungai Melawi, akhirnya tiba juga di Serawai. Perjalanan hari ini berakhir disini. Kami semua  akan menginap di rumah Pak Otong yang menjadi pendamping dari TNBBBR. Perjalanan tidak diteruskan karna mengingat waktu terlalu sore untuk melanjutkan perjalanan ke Rantau Malam.

SERAWAI - JELUNDUNG - RANTAU MALAM

Setelah mengemas ulang barang bawaan masing - masing, pagi ini perjalanan dilanjutkan. Kembali melakukan perjalanan menggunakan boat, melintasi percabangan sungai Melawi menuju Desa Rantau Malam. Ada kepuasan tersendiri yang dirasakan karna pendakian kali ini benar - benar berbeda dari pendakian yang pernah saya lakukan sebelumnya; pertama kalinya saya, harus melakukan pendakian dengan menyusuri sungai terlebih dahulu untuk menuju titik pendakian. Namun sayangnya, aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) dan penebangan pohon menjadi pemandangan miris yang harus kita saksikan juga disepanjang perjalanan menyusuri sungai. Air sungai sudah coklat pekat karna aktivitas penambangan, begitupun hutan - hutan di tepi sungai terlihat sangat tandus karna pohon - pohon tingginya ditebang massal.



Makin jauh perjalanan, dasar permukaan sungai semakin terlihat, menandakan airnya semakin dangkal pula. Kami segera menepi di daerah desa Jelundung, kira - kira 1,5 jam perjalanan dari Serawai. Karna tidak mungkin melanjutkan perjalanan menggunakan boat, akhirnya kami berpindah armada menggunakan sebuah kapal kayu, atau disebut juga Klotok. Berkali - kali kami harus bergantian turun dari klotok dan mendorongnya karna terbentur batu dan permukaan dasar sungai.


bukit raya jelundung
pindah armada~



1,5 jam lagi, waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Desa Rantau Malam menggunakan klotok ini. Gerimis turun saat kami hampir tiba di basecamp pendakian TNBBBR, segera mungkin semua barang bawaan diturunkan dan diangkut menuju basecamp

Malamnya, Sang kepala suku beserta istrinya mendatangi basecamp. Sudah menjadi kebiasaan disini untuk melakukan ritual adat "Ngukuih Hajat", bertujuan untuk menguatkan semangat para pendaki agar selalu diberikan keselamatan serta kekuatan lahir dan bathin sepanjang pendakian hingga kembali. Bahan - bahan untuk ritual ini sudah disiapkan oleh kepala suku, yakni seekor ayam, beras kampung, beras kuning, daun sabang, dan daun mali - mali. Para pendaki diwajibkan untuk memotong ayam yang disediakan dan mengambil darahnya sebagai bahan ritual. Kepala suku komat - kamit merapalkan sebuah doa (atau entah apalah itu namanya..) dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Lalu mengoleskan darah ayam ke beberapa bagian badan kami. Prosesi selanjutnya, masing - masing dari kami diminta untuk menggigit sebuah golok milik kepala suku. Kami juga diberi sebuah gelang yang harus kami kenakan di tangan sebelah kanan, katanya sebagai jimat tolak bala agar terhindar dari segala hal yang tidak diinginkan.


persiapan ritual ada Ngukuih Hajat :'


menyembelih ayam untuk ritual Ngukuih Hajat


To be continued....


**TRIP COST:
- Tiket DAMRI Pontianak - Nanga Pinoh PP (2x) Rp 170.000,- / orang
- Ojek terminal - penyebrangan boat Rp 15.000,- / orang
- Carter speed boat Nanga Pinoh - Rantau Malam Rp 3.500.000,-
- Retribusi pendakian Rp 5.000,- / hari / orang
- Upacara adat Rp 600.000,-
- Klotok Rantau Malam - Jelundung Rp 400.000,- [perjalanan pulang]
- Speed boat Jelundung - Serawai Rp 1.500.000,- [perjalanan pulang]
- Speed boat Serawai - Nang Pinoh Rp 250.000,-/ orang [perjalanan pulang]