Overland Tambora (Part I): dari Jakarta sampai Sumbawa

4:38:00 PM

Rangkaian kereta api ekonomi Bogowonto sudah siap diberangkatkan, saya beserta ketiga teman lain bergegas untuk masuk gerbong dan segera mencari posisi tempat duduk kami yang tertera pada tiket, berdesakan dengan penumpang lainnya yang sedang merapihkan barang bawaannya masing-masing.

Stasiun Pasar Senen sore ini sangat ramai dan padat, ratusan orang dengan tentengannya yang super duper jumbo memenuhi tiap sudut stasiun. Para traveler dengan carrier-nya yang tak kalah besar ikut bercampur dalam riuhnya stasiun. "Suasana lebaran banget!" ucap saya dalam hati. Wajar sih, deretan tanggalan bulan Mei minggu ini dipenuhi warna merah. Tentunya dimanfaatkan oleh para perantau untuk pulang ke kampungnya dan para traveler yang berbondong-bondong untuk menghabiskannya dengan berlibur.

Satu langkah lebih dekat dengan salah satu mimpi saya tahun ini. Melakukan perjalanan darat jadi mimpi saya sejak lama, dan akan terwujud segera. Kenapa sih harus overland? Beberapa teman malah berkomentar dengan rencana perjalanan darat saya kali ini. Mereka bilang, "Overland tuh cuma buang-buang waktu sama energi Zal!, yang ada malah cape duluan sebelum sampai tempat tujuan, pasti sangat-sangat membosankantua di jalan!" dan masih banyak lagi komentar-komentar lainnya. Diluar dari mengunjungi tempat indah atau foto-foto pemandangan keren, menurut saya makna dari traveling sendiri adalah saat kita bisa berinteraksi dengan banyak orang, belajar dari orang dan tempat baru, bisa berbagi apapun dengan orang-orang yang kita temui saat sampai di tempat tujuan ataupun selama perjalanan. Bonusnya saat overland tuh saya bisa mencoba berbagai macam moda transportasi, dari kereta, bus, angkot, kapal feri, ojek, dll.


22 Jam terkurung dalam perut "Ular Besi"

Kereta sudah jauh meninggalkan Jakarta, mencoba membunuh kebosanan diantara kami berempat, Emon memulai membuka percakapan-percakapan konyolnya. Untuk perjalanan panjang kali ini, saya bilang sangat tepat mengajak orang semacam Emon. Bener-bener menghibur. Yang lucunya lagi, dia sengaja membawa kartu remi dan kartu-kartu sulap lucu bin unik yang berhasil bikin kami bertiga ngakak sejadinya.

Ber-empat, dengan bangku yang berhadapan, kami berbagi canda dan tawa, sedikit bercerita mengulas perjalanan yg sebelumnya sudah dilakukan. Saya selalu dibuat rindu oleh suasana kereta api ekonomi, kursinya memang tak senyaman kereta bisnis atau eksekutif, tapi dalam gerbong kereta ekonomi banyak cerita yang tercipta, tak jarang teman barupun didapatkan. Sedikit yang berbeda, kereta ekonomi sekarang sudah dilengkapi fasilitas AC, begitupun dengan pedagang asongan yang sudah jarang masuk ke dalam gerbong.



kereta api bogowonto
kereta ekonomi yang selalu dirindukan~


membunuh lelah dalam kereta.

Mendekati waktu subuh, kereta sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta. Masih ada waktu sekitar empat jam untuk kembali melakukan perjalanan ke Banyuwangi menggunakan KA Sri Tanjung, lumayanlah masih cukup untuk istirahat dan sarapan, atau bahkan membersihkan badan yang sudah gak karuan hasil beraktifitas di ibu kota kemarin siang. Setelah selesai melakukan kewajiban untuk sembahyang subuh, kami bergegas menuju Stasiun Lempuyangan karna KA Sri Tanjung diberangkatkan dari stasiun tersebut.

"Ke Lempuyangan mau naik apa nih?" tanya Mas Jati.
"Jalan aja mas, cuma 1 KM" Saya jawab tanpa ragu sambil melototin GPS di handphone.

Empat pasang kaki mulai melangkah melewati jalanan Yogjakarta yang masih sepi dengan langit yang masih gelap, hanya beberapa motor dan mobil mengisi ruas jalanan pagi itu. Di sudut jalan lain, terlihat seorang bapak menggenggam sapu dengan gerobak di sisi kirinya. Sungguh pejuang yang tangguh! Mungkin demi keluarganyalah beliau masih semangat membersihkan jalanan di pagi buta dikala masyarakat lainnya yang mungkin masih terlelap di kasur empuknya.


pagi di Jogja. 

Warung-warung dekat stasiun sudah ramai oleh pembeli yang mencari makan untuk mengisi perutnya. Kami berhenti di salah satu warung yang menjual nasi soto dan nasi gudeg. Sambil menungu makanan disajikan, kami bergantian untuk mandi atau sekedar cuci muka. Kali aja ketemu cewe cantik di kereta nanti. Hahaha

***

Kembali terkurung di dalam perut "ular besi", menempuh waktu yang lebih lama dari perjalanan semalam. Sebenernya ada alternatif lain yang bisa diambil jika hendak ke Banyuwangi, selain mengambil rute kereta Jakarta - Jogja - Banyuwangi, kita juga bisa mengambil pilihan kereta Jakarta - Surabaya, lalu dari Surabaya melanjutkan lagi ke Banyuwangi. Namun setelah diperhitungkan dengan team, kami semua sepakat mengambil rute pertama dikarenakan dari segi waktu lebih efektif.

Kurang lebih 13 jam waktu yang akan kami habiskan di dalam gerbong, menuju stasiun Banyuwangi. Dihitung-hitung hampir sehari penuh berada dalam gerbong kereta, dijumlahkan dengan waktu tempuh Jakarta - Jogja. Suntuk, ngantuk, tertawa, tidur dengan berbagai macam gaya dan posisi kami alami sepanjang perjalanan.

Enam jam lebih sudah kami lewatkan sejak kereta berangkat dari Jogja tadi pagi, dua gadis memasuki gerbong tempat kami duduk saat kereta berhenti di Surabaya. Nina dan Nadya, dua orang mojang Bandung yang juga tergabung dalam team overland Tambora datang menghampiri kami dan duduk tak jauh dari bangku yang kami duduki. Suasana di gerbong tambah seru pastinya dengan kedatangan mereka berdua. Ditambah hari masih siang, sangat disayangkan jika melewatkan pemandangan keren sepanjang perjalan Jogja - Banyuwangi. Sudah jadi kebiasaan saya dan teman yang lain untuk menebak gunung-gunung yang dilewati oleh kereta selama perjalanan. Siang ini kami cukup takjub dengan panjangnya jalur gunung Argopuro. Konon katanya trek gunung Argopuro lintas Baderan-Bremi menjadi jalur terpanjang di pulau Jawa. "Someday kita pasti bisa kesana!" Ucap saya sambil menunjuk ke arah gunung tersebut.


Kurang empat kepala lagi untuk melengkapkan kami menjadi satu team utuh. Sesampainya di Stasiun Banyuwangi, kami bertemu satu orang lainnya yang akan ikut bergabung, dua orang lainnya akan bertemu di Pelabuhan Padangbai, dan satu orang lagi di Mataram. Niat awal bener-bener ingin start lengkap sepuluh orang, tapi ya begini harusnya. Namanya juga manusia, hanya berencana dan berusaha, tetep Allah yang menentukan.




Wefie dulu. sebelum 2 mojang Bandung datang.

Abaikan Bali, Singgahlah di Lombok.



Bukan maksud melupakan Bali, tapi Sumbawa sebagai tujuan utama kami masih jauh dari pandangan. Setelah menemukan Edward yang sedang santai di sekitar stasiun Banyuwangi, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Jarak pelabuhan dengan stasiun tidak terlalu jauh, cukup ditempuh dengan jalan kaki sekitar 10 menit.



di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
Baliii !
Sebenernya jika cuaca bagus, pulau Bali terlihat jelas dari pelabuhan Ketapang. Waktu tempuhnya pun terbilang cukup singkat, kurang dari satu jam kami semua sampai di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Melipir keluar dari kawasan pelabuhan, banyak kondektur mulai menawarkan untuk mengantar kami ke Pelabuhan Padangbai di Karangasem. Saya pun mencoba menanyakan ongkos yang harus dikeluarkan sampai Padangbai, "Enam puluh ribu mas." jawab si kondektur.  Saya berusaha bernegoisasi agar ongkosnya berkurang dari harga yang ditawarkan, tapi si kondektur tetep kekeh dengan harga tersebut. Okelah, saya tinggalkan kondekturatau mungkin calotadi. Sering terjadi di beberapa terminal, calo yang mematok harga jauh lebih tinggi dari harga normal, terlebih kepada para pendatang. Mungkin mereka pikir para pendatang pasti orang yang banyak uang dan kurang faham mengenai harga yang berlaku di daerah tersebut.

Belum sempat tidur lama di Feri, saya mencoba untuk kembali merebahkan badan di sekitar terminal. Info yang saya dapat, bis pertama ke Padangbai baru ada sekitar jam 3. Belum lama menutup kelopak mata, salah satu teman menggoyang-goyangkan badan saya. Dan ternyata ada pendaki lain yang menawarkan untuk mencarter satu bis ke Padangbai. Empat puluh tiga ribu per orang, harga yang cukup murah dan juga bisa menghemat waktu perjalanan. Kami pun sepakat untuk ikut dalam rombongan dan segera memasukkan semua perlengkapan kami ke dalam bus.

Tiga jam tak terasa, full terlelap dalam bis yang sesak dengan 27 orang dan carrier-nya yang berukuran jumbo. Yang saya rasakan hanya jalannya yang berkelok-kelok, sisanya saya gak ngerasain apapun saking lelapnya tidur. Ha ha ha. Sampai di Padangbai pas dengan adzan Subuh berkumandang, kami putuskan untuk mencari mesjid terdekat untuk sembahyang dan beristirahat sambil menunggu kabar dari Mas Arif dan Ilham.

Tidur ― makan ― tidur, gak ada hal lain yang kami lakukan. S
ebenernya kalo kami mau, kami tinggal menyebrang ke Lombok sesegera mungkin, tapi kami masih menunggu dua teman lain yang menyusul dari Denpasar. Mas Arif baru landing di Denpasar tadi pagi dari Jakarta, dan Ilham saya beri tau untuk bertemu Mas Arif terlebih dahulu. Beberapa teman perjalanan kali ini sebetulnya belum pernah saya temui sebelumnya, seperti Mas Arif, Mba Elvi yang menyusul di Lombok, termasuk Ilham dari Ternate.

Lewat dari waktu Dzuhur, akhirnya dua sosok yang kami tunggu-tunggu datang. Segera kami melangkah menuju pelabuhan supaya tidak terlalu malam sampai di Lombok. Dengan kapal feri, kami melintasi Laut Bali menuju pelabuhan Lembar dengan waktu tempuh sekitar empat jam. Berganti-ganti moda transportasi jadi satu hal menarik dari perjalanan darat kali ini, dan tentunya jadi salah satu alasan kenapa saya overland.

See you Bali~
menuju pelabuhan Lembar, Lombok.

Kehangatan di Rumah Singgah


Jl. Bangil V, sebuah alamat yang diberikan oleh Mas Wawan, salah satu teman dari Backpacker Lombok. Alamat tersebut menjadi tujuan kami selanjutnya untuk bermalam di Lombok, sedangkan esok paginya kami harus kembali melakukan perjalanan ke Desa Pancasila, di Sumbawa. Ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah singgah, membayangkan bisa mengguyur badan yang sudah kumel serta meluruskan badan yang mungkin sudah cukup lelah. Maklumlah, lintas pulau Jawa - Bali - Lombok bukanlah jarak yang dekat. 

Sesampainya di rumah singgah, keinginan awal untuk mandi dan leha-leha hilang, teralihkan oleh senyum ramah Mamak, Bapak, dan teman-teman backpacker lainnya. Mamak, adalah seorang Ibu yang mana menjadi Ibu bagi para backpacker yang pernah mampir di rumah singgah. Senyum ramahnya menyambut kami tak pandang bulu, padahal ini merupakan kali pertama kami bertatap muka. Semoga Mamak dan keluarga selalu dalam lindunganNya, sungguh baiknya menyediakan tempat nyamantanpa dipungut bayaran pulayang pastinya jadi incaran para backpacker. Agenda untuk beristirahat kami lewatkan sejenak, menghabiskan malam bersama Mamak, Bapak, serta teman-teman lainnya. Suasana hangat sangat terasa, berpuluh2 kepala dari berbagai daerah berkumpul disini. Tak hanya pelancong lokal, bahkan rumah singgah ini sudah terkenal di kalangan pejalan dari luar negri. Sungguh menjadi hal baru, bisa berkumpul di satu rumah dengan orang yang awalnya tidak dikenal, dan menjadi teman baru. Rumah singgah menjadi rumah bagi para traveler yang hendak berlibur di Lombok, tak tau malunya kami yang hanya transit di Lombok tapi ikut-ikutan mampir di rumah singgah. Haha, Maaf ya Mamak! :D

Malam semakin larut, satu per satu masuk ke dalam kamar, sebagian tidur dengan cueknya di ruang tengah, sedangkan disudut luar rumah terlihat beberapa kepala masih sibuk berbincang dengan Bapak ditemani secangkir kopi dan rokok. Tubuh-tubuh yang lelah, yang saling tak kenal awalnya, berada dalam satu atap rumah singgah. Dengkuran bergantian terdengar dari tiap sudut rumah, mengisi keheningan malam di Mataram.


Long way to Sumbawa...

Pagi ini menjadi rombongan terakhir yang meninggalkan rumah singgah. Sejak pagi tadi, penghuni rumah singgah sudah berbondong-bondong meninggalkan rumah singgah untuk berangkat ke tujuannya masing-masing. Kami ber-sepuluh pun pamit kepada Mamak setelah angkot Pak Udin menjemput di depan rumah singgah.



foto dulu bareng Mamak :D

Bis Mulya Sejati milik Pak Udin sudah terparkir di terminal Mandalika. Sesampainya di terminal, kami segera memasukan barang-barang bawaan kami ke dalam bis. Waktu menunjukan pukul 09.00 WITA, masih ada waktu satu jam untuk membeli logistik pendakian serta mengisi amunisi untuk perjalanan panjang 17 jam menju Desa Pancasila, Sumbawa. 



pasar Mandalika

Seperti suasana terminal biasanya, tak ada yang aneh atau hal yang mencolok di Terminal Mandalika ini. Namun perhatian kami tertuju seketika saat beberapa orang dekat bis mulai menaikan sepeda motor di bagian belakang bis. Menjadi hal yang unik bagi kami, karna di ibu kota atau kota besar lainnya di Jawa gak ada pemandangan serupa seperti yang terjadi sekarang ini. Sepeda motor yang tergantung itu menjadi objek foto kami semua.

cukup motornya kau gantung, cintaku jangan~
Tepat pukul 10.00 waktu Lombok, bis beranjak meninggalkan terminal Mandalika menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur. Dibutuhkan total 17 jam perjalanan untuk sampai di Desa Pancasila dari Mataram; 3 jam perjalanan darat Mataram - Pelabuhan Kayangan, 3 jam perjalanan laut Pelabuhan Kayangan, Lombok - Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa, dan 11 jam perjalanan darat dari Pelabuhan Poto Tano ke Desa Pancasila. Tentunya perlu kesabaran lebih untuk melakukan perjalanan panjang ini, banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum mencoba perjalanan darat Mataram ke Desa Pancasila; 14 jam dalam bis tanpa AC, jalanan di daerah Sumbawa yang rusak, dan kenyamanan di dalam bis karna banyak barang penumpang lain yang tak jarang dipaksa masuk ke dalam bis.




Lewat waktu Maghrib, bis menepi ke sebuah rumah makan di suatu jalan yang entah saya gak tau itu dimana. Rehat sejenak untuk kembali mengisi perut dan beribadah. Perjalanan malam tidak terlalu terasa, karna badan mulai lelah dan meminta untuk beristirahat. Jalanan yang rusak dan banyak belokan membuat tidur saya tidak nyenyak, berkali-kali terbangun disaat sedang enak-enaknya menikmati tidur di dalam bis.

Jalananpun makin lama makin menyempit, gelap tanpa penerangan. Yang saya ingat berkali-kali kambing dan hewan ternak lainnya menghalangi jalan bis Mulya Sejati milik Pak Udin ini, dengan enaknya hewan-hewan itu tidur atau bahkan hanya berlalu-lalang di tengah jalan.

Di saat saya mulai nyaman tertidur, saya dibangunkan oleh pak supir. Sedikit heran karna isi bis sudah kosong dan sudah terparkir di sebuah halaman yang sudah tidak asing lagi di mata saya. Yes! Alhamdulillah, kami semua sampai di Basecamp pendakian. Segera kami semua mengeluarkan semua barang-barang dan menyimpannya di halaman basecamp yang merupakan rumah Bang Ipul.

Kondisi basecamp pada waktu itu sangat sepi, maklumlah kami sampai di basecamp sekitar jam 3 pagi. Setelah bertemu Bang Ipul, kami izin pamit untuk beristirahat sebentar karna pagi nantinya akan kembali melanjutkan perjalanan, mendaki Gunung Tambora.



To be continued...


**NOTES - Pengeluaran :
- Day 1:
   Tiket KA Bogowonto (Ps Senen - Tugu Jogjakarta)              Rp 170.000,-

- Day 2:
   Tiket KA Sri Tanjung (Lempuyangan - Banyuwangi)             Rp 95.000,-
   Kapal Feri Ketapang (Banyuwangi) - Gilimanuk (Bali)           Rp 6.500,-

- Day 3:
   Carter Bis Gilimanuk (Bali) - Padangbai (Bali)                       Rp 43.000,-
   Kapal Feri Padangbai (Bali) - Lembar (Lombok)                  Rp 40.000,-
   Carter L-300                                                                        Rp 20.000,- (Rp 200.000 / 10 orang)

- Day 4:
   Bis Terminal Mandalika (Lombok) - Desa Pancasila             Rp 150.000,-





You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Catch me on FB :)

Flickr Images

Instagram